Featured Posts

Paud, Jembatan Keunikan AnakPaud, Jembatan Keunikan Anaktuntutan orang tua yang merasa bangga dan menuntut anak usia dini mahir calistung bukan lagi cara pandang tepat. Selain belum waktunya, juga melanggar hak anak bermain. Efeknya.....

Readmore

kunci penting kembangkan bakat anakKunci Penting Kembangkan Bakat AnakBAKAT dalam diri anak merupakan anugerah sejak lahir yang musti disyukuri. Namun, orangtua tidak boleh hanya berdiam diri. Perlu stimulasi untuk mengasah bakatnya....

Readmore

pengembangan bakat disesuaikan dengan kebutuhan anakPengembangan Bakat Disesuaikan dengan Kebutuhan AnakKUNCI lain yang tak kalah pentingnya dalam pengembangan bakat anak adalah dengan selalu berpijak pada kebutuhan anak....

Readmore

Rss


Palembang - Dua tahun belakangan ini Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sangat pesat, dikhawatirkan ada yang menyalahi aturan yang ditetapkan. Untuk itu pemerintah kota melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) melakukan pendataan ulang dan pengawasan terhadap PAUD tersebut.

“Pengawasan PUAD masuk di bawah Disdikpora. Harapan kami yang namanya pendidikan diutamakan jiwa sosialnya dibandingkan bisnis. Kalau sudah ada yang mengarah ke bisnis, saya minta kepada Kabid TK dan SD untuk memantau sejauh mana operasional PAUD tersebut. Apakah masih ada sosial atau sudah bisnis oriented,” kata Kepala Disdikpora Palembang, Drs H Reza Fahlevi MM usai pelantikan beberapa hari lalu.

Reza menjelaskan, bila dalam evaluasi ditemukan ada PAUD yang melakukan bisnis untuk peningkatakan sarana dan pra sarana belajar dengan persetujuan orangtua murdi tidak masalah. Namun yang patut diwaspadai dan ditakutkan ada PAUD yang melakukan bisnis dengan cara memaksa. Jika terbukti, pihaknya tak segan-segan mencabut izin dan menghentikan sama sekali proses belajar mengajar.

Saat ini PAUD yang sudah mendapatkan izin resmi dari Disdikpora Palembang berjumlah 305 buah, sedangkan masih dalam proses verifikasi sebanyak 15 buah. Untuk tenaga pengajar, kata Reza, ditentukan oleh pengelola atau pihak yayasan tetapi tetap pada ketentuan dan tata tertib pendirian PAUD. “Secara rutin, pengelolah maupun pemilik PAUD dipanggil dan dikumpulkan guna mendapatkan masukan dan evaluasi,” tegasnya.
PAUD adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani. Dengan masuk PAUD agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal dan informal.
Menurutnya, rentang anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No. 20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara berdasarkan kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun.
Sedangkan ruang lingkung pendidikan usia dini yakni Infant (0-1 tahun), Toddler (2-3 tahun), Preschool/Kindergarten children (3-6 tahun) dan Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun.



 -sripoku.com-

[ Read More ]


Bernyanyi ada dua bentuk
  1. Bernyanyi pasif: artinya anak hanya mendengarkan suara nyanyian dan musik dan menikmatinya tanpa terlihat secara langsung dalam kegiatan nyanyian
  2. Bernyanyi aktif: artinya anak melakukan secara langsung kegiatan menyanyi, baik melakukan sendiri, mengikuti atau bersama-sama
Manfaat bernyanyi
  1. Memberikan suasana tenang
  2. Mengasah emosi
  3. Membantu menguatkan daya ingat
  4. Mengasah kemampuan apresiasi, improvisasi, imajinasi dan kreasi
  5. Sebagai alat bantu belajar
Menyanyi selain sebagai kegiatan yang dapat membawa fun tersendiri bagi anak, dapat juga mengembangkan imajinasi dan rasa percaya diri anak, sehingga memacu anak untuk lebih kreatif dan berani tampil didepan umum, kemampuan anak dalam bernyanyi pada usia dini ini biasanya didasarkan oleh pengalamannya pada saat mendengar musik ataupun mendengar orang tua dan orang-orang disekitarnya bernyanyi. Berdasarkan survey dan penelitian, semakin sering anak mendengar orang tua atau orang disekitarnya menyanyi dengan benar dan sesuai dengan nada, semakin besar kemungkinan anak bisa menyanyi di usia 2 tahun.

Si Kecil yang berusia 2 tahun yang baru lancar bicara tentu dengan pelafalan yang terkadang masih belum pas biasanya terdorong mulai menyanyi. Selain fun, kegiatan menyanyi memunculkan keasyikan tersendiri: mengembangkan imajinasi, memberi rasa percaya diri saat diberi tepukan, serta mengeksplorasi kemampuan bernyanyi anak.

Selain itu, keuntungan kegiatan ini bagi si 2 tahun adalah ia bisa berlatih memperkaya kosa kata, dan secara aktif bereksperimen dengan beragam intonasi nada, panjang-pendeknya suara, dan naik-turunnya nada bicara. Apabila anak bermasalah dalam perkembangan bicara atau bermasalah pada indera pendengarannya, Anda bisa melihat Dari kemampuannya menyanyi. Jika mengalami gangguan, dalam rentang usia 2-3 tahun biasanya anak belum bisa memproduksi bunyi bahasa dengan sempurna, apalagi menyanyi.

Tentu modal penting lain adalah kemahiran anak meniru. Di tahap awal, ia mampu menyanyi dengan cara mengikuti Anda menyanyi. Di tahap berikut, inisiatif menyanyi akan datang dari dirinya. Meski awalnya sering meleset membidik nada, namun semakin sering berlatih membuat si kecil mampu menyanyi dengan baik secara tepat nada dan pelafalan di usia 3-3,5 tahun.

Menyanyi tak hanya bagian dari kecerdasan seni, melainkan juga cara mengasah kecerdasan sosial-emosi anak terasah karena ia harus menyajikan lagu dengan emosi dan ekspresi yang tepat, sesuai isi lagu. Dari sisi kesehatan, menyanyi dapat melatih seluruh otot kepala dan leher serta membantu si kecil mengasah organ pendengarannya. Demikian pula ia melafalkan dengan tepat kata demi kata.

Unsur musik dan lagu yang sangat membantu si 2 tahun melatih fisik dan inderanya adalah ritme, si kecil melatih suara dan menggunakan sikap tubuh yang tepat. Dengan postur dan posisi tubuh yang pas, produksi suara baik dan nada yang dihasilkan tepat. Repetisi ritme tentu sangat membantu mengasah keterampilan ini.

Jangan khawatir jika anak belum juga memperlihatkan tanda-tanda tertarik untuk menyanyi, belum tentu bermasalah. Hal ini bisa disebabkan Anda kurang menstimulasi anak atau kurang memberikan contoh seperti jarang menyanyi. Sebaiknya Anda menjadi pendorong anak belajar menyanyi. Untuk lebih menarik, Anda dapat menyediakan beberapa mainan yang menstimulasi anak untuk bernyanyi, di antaranya mikrofon mainan, karaoke mainan, tamborine atau piano mainan. Bersiap-siaplah menyanyi bersama sehingga Anak tergerak untuk bernyanyi dan menuangkan kreatifitasnya.

Ajak Si kecil agar mau bernyanyi
  • Beli kaset atau VCD karaoke lagu anak dan ajak si Kecil untuk memilih lagu-lagu yang biasa mereka dengar dan sukai.
  • Ajak si kecil menyanyi sambil melakukan bermacam kegiatan. Pilih lagu yang sesuai dengan kegiatan yang sedang dilakukan. Misalnya “Bangun tidur kuterus mandi” saat si kecil bangun di pagi hari.
  • Ajak si kecil sering-sering menonton pertunjukan musik, seperti operet, konser musik atau melihat penampilan penyanyi cilik untuk memotivasinya agar tergerak untuk bernyanyi.
  • Rekam suara si Kecil saat menyanyi atau ambil videonya disaat bernyanyi sehingga Anda dapat memutar kembali dan mendengarnya bersama si Kecil, selain sebagai kenang-kenangan hal ini dapat memotivasi si Kecil untuk terus bernyanyi dan mengasah kreatifitasnya.

-bintangbangsaku.com-


[ Read More ]


Pemerintah Kota Bandung berjanji mengusahakan pemberian bantuan untuk lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD). Dari total 418 lembaga PAUD yang ada di Kota Bandung, baru 50 yang mendapat bantuan dari Pemkot Bandung.

"Perhatian dari pemerintah masih sedikit, hanya Rp 5 Juta per tahun yang diberikan dari APBD. Mudah-mudahan nanti di perubahan dapat dianggarkan untuk seluruh PAUD yang ada di Bandung," kata Wali Kota Bandung Dada Rosada saat menghadiri Gebyar Hari Anak Nasional Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Indonesia (Himpaudi) di Metro Indah Mall, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu (7/8).

Dada mengatakan, pihaknya akan meminta Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung untuk selalu mengajukan anggaran untuk PAUD baik dalam APBD perubahan maupun murni.

Sebelumnya, Ketua Himpaudi Kota Bandung Epi Untung Supriono mengungkapkan, bantuan yang diberikan pemerintah saat ini masih sangat kecil. Padahal, PAUD sebenarnya berperan besar dalam pengembangan kecerdasan generasi bangsa.


-tribunjabar.co.id-


[ Read More ]


Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Departemen Pendidikan Nasional, Hamid Muhammad, mengungkapkan, dalam satu tahunnya, pemerintah pusat menganggarkan Rp750 miliar dana yang dibagikan ke seluruh Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia. 

"Data PNFI sendiri untuk Paud seluruh Indonesia sebanyak 127 ribu. Sedangkan, dana kami yang Rp750 miliar tersebut hanya dapat membiayai 27 ribu lembaga. Jadi, masih ada 100 ribu lembaga lagi yang harus dibiayai," katanya di Pontianak.

Dikatakan  PNFI tidak dapat secara terus menerus setiap tahunnya membiayai Paud yang ada di seluruh Indonesia. "Ini karena alokasi anggaran yang terbatas," jelasnya.

Dirjen PNFI mengungkapkan bahwa angka partisipasi Paud saat ini baru mencapai 53 persen. "Artinya, kami masih punya tugas yang cukup berat karena harus mengupayakan 47 persen lagi," ungkapnya. 

Menurut Dirjen PNFI, jumlah itu sangat banyak dan besar, jadi populasi Paud di Indonesia diperkirakan mencapai 28,8 juta. Akan tetapi, yang terdata sekarang ini baru sekitar 15,5 juta. 

"Ini merupakan tantangan karena kami punya komitmen internasional pada 2015 mendatang minimal harus 75 persen. Saya gembira sekarang Paud itu dapat tersosialisasi di semua lapisan masyarakat," terangnya. 

Dirjen PNFI menjelaskan pula banyak masyarakat yang susah membedakan antara Paud dan Taman anak-kanak.

Sebenarnya, kata dia, Paud merupakan istilah umum. Dimana ada Paud yang formal dan Paud nonformal. "Yang formal itu namanya TK. Jadi, TK itulah sebenarnya bagian dari Paud tetapi formal," jelasnya.

Sedangkan, yang nonformal dimana banyak dikenal sekarang ini yakni kelompok bermain, tempat penitipan anak. "Serta ada lagi Pospaud, yang merupakan perpaduan posyandu dan Paud," terang Dirjen PNFI. 

Ketika ditanya apakah PNFI memiliki program khusus untuk pengembangan Paud di Indonesia. Hamid Muhammad mengungkapkan, program yang dilakukan PNFI sama untuk seluruh Indonesia. 

"Kami memberikan berbagai bantuan, baik itu untuk TK, maupun kelompok bermain, TPA, serta satuan PAUD sejenis," paparnya.


-banjarmasinpost.co.id-


[ Read More ]


Anak usia di bawah lima tahun (balita) sebaiknya tak buru-buru diajarkan baca tulis dan hitung (calistung). Jika dipaksa calistung si anak akan terkena 'Mental Hectic'.

''Penyakit itu akan merasuki anak tersebut di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD). Oleh karena itu jangan bangga bagi Anda atau siapa saja yang memiliki anak usia dua atau tiga tahun sudah bisa membaca dan menulis,'' ujar Sudjarwo, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ditjen PNFI Kemendiknas, Sabtu (17/7).

Oleh karena itu, kata Sudjarwo, pengajaran PAUD akan dikembalikan pada 'qitah'-nya. Kemendiknas mendorong orang tua untuk menjadi konsumen cerdas, terutama dengan memilih sekolah PAUD yang tidak mengajarkan calistung.

Saat ini banyak orang tua yang terjebak saat memilih sekolah PAUD. Orangtua menganggap sekolah PAUD yang biayanya mahal, fasilitas mewah, dan mengajarkan calistung merupakan sekolah yang baik. ''Padahal tidak begitu, apalagi orang tua memilih sekolah PAUD yang bisa mengajarkan calistung, itu keliru,''  jelas Sudjarwo.

Sekolah PAUD yang bagus justru sekolah yang memberikan kesempatan pada anak untuk bermain, tanpa membebaninya dengan beban akademik, termasuk calistung.  Dampak memberikan pelajaran calistung pada anak PAUD, menurut Sudjarwo, akan berbahaya bagi anak itu sendiri. ''Bahaya untuk konsumen pendidikan, yaitu anak, terutama dari sisi mental,'' cetusnya.

Memberikan pelajaran calistung pada anak, menurut Sudjarwo, dapat menghambat pertumbuhan kecerdasan mental. ''Jadi tidak main-main itu, ada namanya 'mental hectic', anak bisa menjadi pemberontak,'' tegas dia. Kesalahan ini sering dilakukan oleh orang tua, yang seringkali bangga jika lulus TK anaknya sudah dapat calistung. Untuk itu, Sudjarwo mengatakan, Kemendiknas sedang gencar mensosialisasikan agar PAUD kembali pada fitrahnya. Sedangkan produk payung hukumnya sudah ada, yakni SK Mendiknas No 58/2009. ''SK nya sudah keluar, jadi jangan sembarangan memberikan pelajaran calistung,'' jelasnya.

Sosialisasi tersebut, kata Sudjarwo, telah dilakukan melalui berbagai pertemuan di tingkat kabupaten dan provinsi.  Maka Sudjarwo sangat berharap pemerintah daerah dapat menindaklanjuti komitmen pusat untuk mengembalikan PAUD pada jalurnya. ''Paling penting pemda dapat melakukan tindak lanjutnya,'' jawab dia.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Srie Agustina, Koordinator Komisi Edukasi dan Komunikasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), menyatakan, memilih mensosialisasikan produk pendidikan  merupakan bagian dari fungsi dan tugas BPKN untuk melakukan perlindungan terhadap konsumen.

Dalam hal ini, kata Srie, BPKN memprioritaskan sosialisasi pada anak usia dini. Sebab berdasarkan Konvensi Hak Anak, setiap anak memiliki empat hak dasar.  Salah satunya adalah hak untuk mendapatkan perlindungan dalam kerugian dari barang dan produk, termasuk produk pendidikan. ''Untuk itu sejak dini anak dilibatkan, karena di usia itulah pembentukan karakter terjadi,'' papar Srie.

Namun menurut Srie, mengedukasi tentang sebuah produk harus menggunakan metode khusus.  Tidak dapat berwujud arahan dan larangan, namun dengan cara yang menyenangkan, salah satunya dengan festival mewarnai sebagai salah satu teknik untuk memberikan edukasi. ''Dengan mewarnai, mereka bisa terlibat dan merasa lebur di dalamnya, selain itu dalam gambar yang diwarnai tersebut disisipkan pesan-pesan yang ingin disampaikan,'' pungkasnya.


-republika.co.id-


[ Read More ]