Featured Posts
Paud, Jembatan Keunikan Anaktuntutan orang tua yang merasa bangga dan menuntut anak usia dini mahir calistung bukan lagi cara pandang tepat. Selain belum waktunya, juga melanggar hak anak bermain. Efeknya.....
Kunci Penting Kembangkan Bakat AnakBAKAT dalam diri anak merupakan anugerah sejak lahir yang musti disyukuri. Namun, orangtua tidak boleh hanya berdiam diri. Perlu stimulasi untuk mengasah bakatnya....
Pengembangan Bakat Disesuaikan dengan Kebutuhan AnakKUNCI lain yang tak kalah pentingnya dalam pengembangan bakat anak adalah dengan selalu berpijak pada kebutuhan anak....
Tampilkan postingan dengan label PAUD dalam BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAUD dalam BERITA. Tampilkan semua postingan
Selama 7 tahun di Indonesia, Prof. Sandralyn Byrnes mengamati permasalahan pendidikan anak usia dini di Indonesia.
Dari penelitian yang ia lakukan, dan menilai berdasarkan pengetahuannya sebagai profesor dan pengalaman sebagai guru anak-anak usia dini, ia menilai bahwa ada beberapa hal yang mengganjal pada pendidikan anak usia dini di Indonesia.
Saat ini, Profesor Sandralyn Byrnes bekerja sebagai kepala sekolah Royal Tots Academy, Kuningan, Jakarta. Dalam seminar kecil bertajuk "What's Wrong with The Early Childhood Education in Indonesia?", yang digelar saat event Giggle Playgroup Day 2011, gelaran Miniapolis & Giggle Management, Jumat, 11 Februari 2011, Sandralyn mengungkap beberapa hal tentang PAUD di Indonesia. Pertama, saat ini di Indonesia belum ada standar universal mengenai batasan bagi anak-anak yang disepakati bersama. Kedua, bahwa tenaga pengajar di kebanyakan lembaga PAUD masih butuh pendidikan yang terus di-update, dan butuh kerjasama antara lembaga terkait pendidikan anak usia dini untuk menyamaratakan, serta butuh kerjsama dari orangtua murid untuk membantu optimalisasi pendidikan anak.
Selama 7 tahun meriset dan mencari tahu mengenai proses pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes menemukan beberapa hal yang mengganjal. "Pada umumnya, kita semua tahu bahwa pendidikan anak usia dini itu penting, karena di usia inilah terjadi proses pembentukan pendidikan yang paling penting. Di usia inilah anak-anak harus membentuk kesiapan dirinya menghadapi masa sekolah. Investasi terbaik yang bisa Anda berikan untuk anak-anak adalah persiapan pendidikan mereka di usia dini. Hasil investasi ini akan dilihat di masa depan, selepas mereka dari sekolah. Kalau Anda salah pilih sekolah untuk anak usia dini, akan ada konsekuensi di masa depan anak," terang Byrnes yang mendapatkan titel Australia's and International of The Year ini.
Byrnes mengungkap kembali bahwa saat ini pendidikan anak usia dini di Indonesia belum merata, bahkan sertifikasinya pun tidak menjadi jaminan. "Jika Anda mau pendidikan yang terbaik untuk anak-anak, maka pencarian sekolah pendidikan anak usia dini menjadi pekerjaan rumah terpenting para orangtua. Cari dengan hati-hati, jangan tergesa-gesa," sarannya.
Perlu diketahui lagi, ungkap Byrnes, pendidikan anak usia dini di Indonesia tidak sama, karena tidak disubsidi pemerintah seperti kebanyakan negara lain. "Karena itu, lihatlah uang sekolah untuk anak di usia dini sebagai investasi. Ketahuilah bahwa proses pendidikan anak tidak dimulai dari sekolah dasar, tetapi dari anak usia 18 bulan," ungkap Byrnes
Dari hasil pengamatan Byrnes di Indonesia, ada banyak sekolah anak usia dini yang berembel-embel internasional dan franchise. Hanya segelintir yang mempertahankan kualitasnya, sisanya, tidak menjaga kualitasnya, termasuk tidak menjaga kualitas tenaga pengajarnya.
Sekolah harus menjaga kualitasnya, metodologinya harus di-update, perkembangan keprofesionalitasannya harus dipertahankan, perkembangan pengetahuan seputar pengajaran anak juga harus selalu ditingkatkan, ungkap Byrnes kepada Kompas Female usai seminar kecil tersebut.
Lalu, bagaimana cara memilih sekolah untuk anak usia dini yang terbaik? Byrnes menyarankan:
Dari penelitian yang ia lakukan, dan menilai berdasarkan pengetahuannya sebagai profesor dan pengalaman sebagai guru anak-anak usia dini, ia menilai bahwa ada beberapa hal yang mengganjal pada pendidikan anak usia dini di Indonesia.
Saat ini, Profesor Sandralyn Byrnes bekerja sebagai kepala sekolah Royal Tots Academy, Kuningan, Jakarta. Dalam seminar kecil bertajuk "What's Wrong with The Early Childhood Education in Indonesia?", yang digelar saat event Giggle Playgroup Day 2011, gelaran Miniapolis & Giggle Management, Jumat, 11 Februari 2011, Sandralyn mengungkap beberapa hal tentang PAUD di Indonesia. Pertama, saat ini di Indonesia belum ada standar universal mengenai batasan bagi anak-anak yang disepakati bersama. Kedua, bahwa tenaga pengajar di kebanyakan lembaga PAUD masih butuh pendidikan yang terus di-update, dan butuh kerjasama antara lembaga terkait pendidikan anak usia dini untuk menyamaratakan, serta butuh kerjsama dari orangtua murid untuk membantu optimalisasi pendidikan anak.
Selama 7 tahun meriset dan mencari tahu mengenai proses pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes menemukan beberapa hal yang mengganjal. "Pada umumnya, kita semua tahu bahwa pendidikan anak usia dini itu penting, karena di usia inilah terjadi proses pembentukan pendidikan yang paling penting. Di usia inilah anak-anak harus membentuk kesiapan dirinya menghadapi masa sekolah. Investasi terbaik yang bisa Anda berikan untuk anak-anak adalah persiapan pendidikan mereka di usia dini. Hasil investasi ini akan dilihat di masa depan, selepas mereka dari sekolah. Kalau Anda salah pilih sekolah untuk anak usia dini, akan ada konsekuensi di masa depan anak," terang Byrnes yang mendapatkan titel Australia's and International of The Year ini.
Byrnes mengungkap kembali bahwa saat ini pendidikan anak usia dini di Indonesia belum merata, bahkan sertifikasinya pun tidak menjadi jaminan. "Jika Anda mau pendidikan yang terbaik untuk anak-anak, maka pencarian sekolah pendidikan anak usia dini menjadi pekerjaan rumah terpenting para orangtua. Cari dengan hati-hati, jangan tergesa-gesa," sarannya.
Perlu diketahui lagi, ungkap Byrnes, pendidikan anak usia dini di Indonesia tidak sama, karena tidak disubsidi pemerintah seperti kebanyakan negara lain. "Karena itu, lihatlah uang sekolah untuk anak di usia dini sebagai investasi. Ketahuilah bahwa proses pendidikan anak tidak dimulai dari sekolah dasar, tetapi dari anak usia 18 bulan," ungkap Byrnes
Dari hasil pengamatan Byrnes di Indonesia, ada banyak sekolah anak usia dini yang berembel-embel internasional dan franchise. Hanya segelintir yang mempertahankan kualitasnya, sisanya, tidak menjaga kualitasnya, termasuk tidak menjaga kualitas tenaga pengajarnya.
Sekolah harus menjaga kualitasnya, metodologinya harus di-update, perkembangan keprofesionalitasannya harus dipertahankan, perkembangan pengetahuan seputar pengajaran anak juga harus selalu ditingkatkan, ungkap Byrnes kepada Kompas Female usai seminar kecil tersebut.
Lalu, bagaimana cara memilih sekolah untuk anak usia dini yang terbaik? Byrnes menyarankan:
Cek kurikulumnya
Ketahui apa saja yang akan diajarkan dan bagaimana cara pengajarannya.
Bicara dengan gurunya
Lihat apakah ada gairah dari para guru untuk mengajar kepada anak-anaknya. Jika mereka hanya melakukan pekerjaan, percuma. Anak tak akan diperhatikan kebutuhannya, karena kebutuhan setiap anak itu berbeda. Tanyakan pula mengenai cara menghadapi anak, ungkap masalah anak Anda, dan perhatikan jawaban si guru. Guru yang baik seharusnya tahu mengenai cara menghadapi anak-anak dengan berbagai kebutuhan.
Bicara pula dengan kepala sekolahnya
"Seorang kepala sekolah harus tahu dan paham mengenai pendidikan anak usia dini. Jika Anda tahu orang yang memimpin mengerti tugasnya, Anda akan tenang dan yakin bahwa sekolah si anak berjalan ke arah yang benar," ujar Byrnes.
Perhatikan pula lokasi belajarnya
Anak-anak masih belum paham benar apa yang aman dan tidak aman baginya. Pastikan lokasinya aman, tidak banyak benda-benda berbahaya bagi anak, serta bersih.
Kunjungi sekolah di jam belajar
Lihat bagaimana anak-anak berinteraksi dengan sekelilingnya. Apakah ada senyum di sana? Apakah anak-anak di sana terlihat bahagia? "Kalau anak-anak usia dini itu tidak tertawa atau tersenyum, bisa dibilang ada yang tidak beres di sana," ungkap Byrnes. "Menurut saya, anak-anak juga harus bisa mendapat pelajaran di luar kelas. Mereka harus berinteraksi dengan alam untuk melatih motorik mereka," tambahnya.
Nilai-nilai lain
pun sebaiknya diajarkan di usia ini untuk masa depannya, seperti cara bersosialisasi, sikap sopan, dan sifat karakteristik yang baik.
Perhatikan pula program yang dijalankan
"Seharusnya ada segitiga kerjasama tak terputus antara guru, sekolah, dan orangtua. Ketiganya harus bekerja dengan baik. Harus ada program lain, keterlibatan orangtua-anak di sekolah tak hanya sebatas antar-jemput sekolah."
Satu hal yang dipesankan Byrnes, jangan pernah menyerahkan pemilihan sekolah anak usia dini kepada si anak. "Anak-anak belum mengerti apa yang harus diperhatikan. Saya sering sekali melihat orangtua menanyakan kepada anak, 'Bagaimana sekolahnya? Kamu mau sekolah di mana?' Itu bukan cara yang tepat untuk memilih lembaga pendidikan anak usia dini. Orangtualah yang bertanggung jawab dan bertugas memilih sekolah yang terbaik untuk anak," tutup Byrnes.
-kompas.com-
Pendidikan anak usia dini (PAUD) yang baik dan tepat dibutuhkan anak untuk menghadapi masa depan, begitulah pesan yang disampaikan Profesor Sandralyn Byrnes, Australia's & International Teacher of the Year saat seminar kecil di acara Giggle Playgroup Day 2011, gelaran Miniapolis & Giggle Management, Jumat, 11 Februari 2011 lalu.
Menurut Byrnes, PAUD akan memberikan persiapan anak menghadapi masa-masa ke depannya, yang paling dekat adalah menghadapi masa sekolah. "Saat ini, beberapa taman kanak-kanak sudah meminta anak murid yang mau mendaftar di sana sudah bisa membaca dan berhitung. Di masa TK pun sudah mulai diajarkan kemampuan bersosialisasi dan problem solving. Karena kemampuan-kemampuan itu sudah bisa dibentuk sejak usia dini," jelas Byrnes.
Di lembaga pendidikan anak usia dini, anak-anak sudah diajarkan dasar-dasar cara belajar. "Tentunya di usia dini, mereka akan belajar pondasi-pondasinya. Mereka diajarkan dengan cara yang mereka ketahui, yakni lewat bermain. Tetapi bukan sekadar bermain, tetapi bermain yang diarahkan. Lewat bermain yang diarahkan, mereka bisa belajar banyak; cara bersosialisasi, problem solving, negosiasi, manajemen waktu, resolusi konflik, berada dalam grup besar/kecil, kewajiban sosial, serta 1-3 bahasa."
Karena lewat bermain, anak tidak merasa dipaksa untuk belajar. Saat bermain, otak anak berada dalam keadaan yang tenang. Saat tenang itu, pendidikan pun bisa masuk dan tertanam. "Tentunya cara bermain pun tidak bisa asal, harus yang diarahkan dan ini butuh tenaga yang memiliki kemampuan dan cara mengajarkan yang tepat. Kelas harusnya berisi kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran. Bukan menjadi ajang tarik-ulur kekuatan antara murid-guru. Seharusnya terbangun sikap anak yang semangat untuk belajar," jelas Byrnes.
Contoh, bermain peran sebagai pemadam kebakaran, anak tidak akan mendapat apa-apa jika ia hanya disuruh mengenakan busana dan berlarian membawa selang. Tetapi, guru yang mengerti harus bisa mengajak anak menggunakan otaknya saat si anak berperan sebagai pemadam kebakaran, "Apa yang digunakan oleh pemadam kebakaran, Nak? Bagaimana suara truk pemadam kebakaran yang benar? Apa yang dilakukan pemadam kebakaran? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan ditanyakan untuk memancing daya pikir si anak," contoh Byrnes.
Selama 7 tahun meneliti pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes juga menemukan sebagian orangtua memiliki konsep bahwa anak-anak di usia itu sudah bisa berpikir. "Anak-anak usia dini belum bisa berpikir dengan sempurna seperti orang dewasa. Anak-anak usia tersebut harus dipandu cara berpikir secara besar, cara mencerna, dan berdaya nalar. Sayangnya, beberapa lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia belum mengajarkan mengenai multiple intelligences. Ini kembali ke perkembangan latar belakang ahli didiknya," ungkap Byrnes.
Apa perbedaan anak-anak yang belajar di lembaga pendidikan usia dini berkualitas dengan anak-anak yang tidak belajar? "Di lembaga pendidikan anak usia dini yang bagus, anak-anak akan belajar menjadi pribadi yang mandiri, kuat bersosialisasi, percaya diri, punya rasa ingin tahu yang besar, bisa mengambil ide, mengembangkan ide, pergi ke sekolah lain dan siap belajar, cepat beradaptasi, dan semangat untuk belajar. Sementara, anak yang tidak mendapat pendidikan cukup di usia dini, akan lamban menerima sesuatu," terang Byrnes yang pernah mendapat gelar Woman of the Year dari Vitasoy di Australia. "Anak yang tidak mendapat pendidikan usia dini yang tepat, akan seperti mobil yang tidak bensinnya tiris. Anak-anak yang berpendidikan usia dini tepat memiliki bensin penuh, mesinnya akan langsung jalan begitu ia ada di tempat baru. Sementara anak yang tidak berpendidikan usia dini akan kesulitan memulai mesinnya, jadi lamban. Menurut saya, pendidikan anak sudah bisa dimulai sejak ia 18 bulan," tutup Byrnes.
Menurut Byrnes, PAUD akan memberikan persiapan anak menghadapi masa-masa ke depannya, yang paling dekat adalah menghadapi masa sekolah. "Saat ini, beberapa taman kanak-kanak sudah meminta anak murid yang mau mendaftar di sana sudah bisa membaca dan berhitung. Di masa TK pun sudah mulai diajarkan kemampuan bersosialisasi dan problem solving. Karena kemampuan-kemampuan itu sudah bisa dibentuk sejak usia dini," jelas Byrnes.
Di lembaga pendidikan anak usia dini, anak-anak sudah diajarkan dasar-dasar cara belajar. "Tentunya di usia dini, mereka akan belajar pondasi-pondasinya. Mereka diajarkan dengan cara yang mereka ketahui, yakni lewat bermain. Tetapi bukan sekadar bermain, tetapi bermain yang diarahkan. Lewat bermain yang diarahkan, mereka bisa belajar banyak; cara bersosialisasi, problem solving, negosiasi, manajemen waktu, resolusi konflik, berada dalam grup besar/kecil, kewajiban sosial, serta 1-3 bahasa."
Karena lewat bermain, anak tidak merasa dipaksa untuk belajar. Saat bermain, otak anak berada dalam keadaan yang tenang. Saat tenang itu, pendidikan pun bisa masuk dan tertanam. "Tentunya cara bermain pun tidak bisa asal, harus yang diarahkan dan ini butuh tenaga yang memiliki kemampuan dan cara mengajarkan yang tepat. Kelas harusnya berisi kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran. Bukan menjadi ajang tarik-ulur kekuatan antara murid-guru. Seharusnya terbangun sikap anak yang semangat untuk belajar," jelas Byrnes.
Contoh, bermain peran sebagai pemadam kebakaran, anak tidak akan mendapat apa-apa jika ia hanya disuruh mengenakan busana dan berlarian membawa selang. Tetapi, guru yang mengerti harus bisa mengajak anak menggunakan otaknya saat si anak berperan sebagai pemadam kebakaran, "Apa yang digunakan oleh pemadam kebakaran, Nak? Bagaimana suara truk pemadam kebakaran yang benar? Apa yang dilakukan pemadam kebakaran? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan ditanyakan untuk memancing daya pikir si anak," contoh Byrnes.
Selama 7 tahun meneliti pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes juga menemukan sebagian orangtua memiliki konsep bahwa anak-anak di usia itu sudah bisa berpikir. "Anak-anak usia dini belum bisa berpikir dengan sempurna seperti orang dewasa. Anak-anak usia tersebut harus dipandu cara berpikir secara besar, cara mencerna, dan berdaya nalar. Sayangnya, beberapa lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia belum mengajarkan mengenai multiple intelligences. Ini kembali ke perkembangan latar belakang ahli didiknya," ungkap Byrnes.
Apa perbedaan anak-anak yang belajar di lembaga pendidikan usia dini berkualitas dengan anak-anak yang tidak belajar? "Di lembaga pendidikan anak usia dini yang bagus, anak-anak akan belajar menjadi pribadi yang mandiri, kuat bersosialisasi, percaya diri, punya rasa ingin tahu yang besar, bisa mengambil ide, mengembangkan ide, pergi ke sekolah lain dan siap belajar, cepat beradaptasi, dan semangat untuk belajar. Sementara, anak yang tidak mendapat pendidikan cukup di usia dini, akan lamban menerima sesuatu," terang Byrnes yang pernah mendapat gelar Woman of the Year dari Vitasoy di Australia. "Anak yang tidak mendapat pendidikan usia dini yang tepat, akan seperti mobil yang tidak bensinnya tiris. Anak-anak yang berpendidikan usia dini tepat memiliki bensin penuh, mesinnya akan langsung jalan begitu ia ada di tempat baru. Sementara anak yang tidak berpendidikan usia dini akan kesulitan memulai mesinnya, jadi lamban. Menurut saya, pendidikan anak sudah bisa dimulai sejak ia 18 bulan," tutup Byrnes.
-kompas.com-
Cacingan merupakan penyakit kronik dengan prevalensi tinggi. Penelitian terhadap murid TK dan SD di Muara Baru Jakarta tahun 2009 menemukan 60 persen murid menderita infeksi kecacingan. Penyakit ini memang tidak mematikan, namun menggerogoti kesehatan dan menurunkan mutu sumber daya manusia.
"Cacingan menyebabkan anak kurang gizi karena sari-sari makanan habis dihisap. Anak juga akan anemia, lesu dan kecerdasannya menurun," kata Prof.dr.Saleha Sungkar dari departemen parasitologi FKUI Jakarta di acara program edukasi bahaya cacingan di sekolah yang diadakan Combantrin di SD Al-Ikhlas Jakarta (31/1/2011).
Telur cacing, jelas Suleha, hanya bisa menginfeksi jika telur-telur itu sudah kontak tanah. "Karena itu kebanyakan yang cacingan adalah anak-anak karena mereka masih suka bermain di area terbuka atau malas mencuci tangan sebelum makan," paparnya.
Telur cacing juga bisa masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang tercemar telur cacing. Pengobatan cacingan dilakukan berdasarkan diagnosis. "Periksa dulu feses di laboratorium, kalau positif cacingan baru diobati," katanya.
Orangtua juga disarankan memeriksakan feses anaknya jika anak terlihat lesu dan mudah mengantuk. "Pada gejala awal biasanya cacingan tidak bergejala sehingga anak bisa terlihat sehat," paparnya.
Upaya pemberantasan cacingan dilakukan dengan menyosialisasikan perilaku hidup bersih dan sehat. "Membiasakan anak mencuci tangan juga para pedagang makanan. Penyuluhan juga diberikan kepada masyarakat lewat Posyandu. Sejauh ini, upaya tersebut menunjukkan penurunan infeksi kecacingan," kata dr.IBN Banjar, Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan DKI dalam kesempatan yang sama.
-kompas.com-
Inilah cara efektif agar si kecil terbiasa ucapkan "permisi", "tolong" dan "terima kasih"....
Orangtua terkadang merasa kesulitan membiasakan anak agar memiliki perilaku yang sopan. Mungkin, sudah banyak cara yang Anda terapkan, tapi agaknya si kecil tidak mau nurut. Meskipun sekadar mengatakan “permisi”, "tolong" dan "terima kasih".
Cara terbaik untuk mengajar anak tata krama adalah dengan memberinya contoh perilaku dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah. Berikut ini ada beberapa aktivitas yang dapat Anda manfaatkan untuk membimbingnya ke arah yang positif, seperti dikutip dari Modern Mom.
Lewat buku
Membaca buku bersama anak merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengajarkan sikap sopan santun. Ketika memilih sebuah buku untuk anak, pilihlah yang sesuai dengan usia dan karakter yang dikaguminya.
Agar si kecil makin tertarik, pilihlah buku-buku yang mudah dicerna, berwarna, dan banyak gambarnya. Sekarang ini, hampir semua toko buku menyediakan ragam buku mengajarkan sopan santun untuk anak.
Sambil bermain
Mengadakan pesta minum teh di rumah memungkinkan Anda untuk mengajarkan anak-anak Anda, misalnya mengenai bagaimana mengatur meja, sampai tempat duduk.
Sementara anak-anak yang lebih muda bisa belajar sopan santun, anak-anak yang lebih tua dapat menikmati manfaat pesta teh. Mereka akan belajar banyak hal, menyajikan makanan di meja yang benar, meminta sesuatu yang berada di seberang meja, dan bagaimana menyudahi makanan.
Setelah Anda merasa ada kemajuan etiket etiket pada anak-anak, coba pertimbangkan untuk mengajak mereka menghadiri pesta minum teh secara formal.
Bermain sandiwara
Seni peran, misalnya main sandiwara, efektif untuk mengajarkan sopan santun pada si kecil. Untuk mengajarkan perilaku anak Anda melalui bermain peran, berikan contoh dialog, lalu jelaskan skenarionya.
Sebagai contoh, jika Anda ingin mengajarkan si kecil untuk selalu mengatakan "tolong," jelaskan apa pentingnya mengatakan kata itu dan pada situasi seperti apa harus mengatakannya pada orang lain.
Atau, ketika Anda ingin membiasakan si kecil mengatakan “terima kasih,” caranya Anda bisa menyerahkan mainan kepadanya. Lalu mendorong dia mengatakan “terima kasih.” Jangan lupa, Anda merespon dengan mengatakan “terima kasih kembali.”
Banyak hal soal etiket yang bisa Anda masukkan dalam permainan peran ini. Yang penting lagi, pastikan juga bahwa peran anak dalam permainan sandiwara ini sesuai dengan usianya.
Cara terbaik untuk mengajar anak tata krama adalah dengan memberinya contoh perilaku dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah. Berikut ini ada beberapa aktivitas yang dapat Anda manfaatkan untuk membimbingnya ke arah yang positif, seperti dikutip dari Modern Mom.
Lewat buku
Membaca buku bersama anak merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengajarkan sikap sopan santun. Ketika memilih sebuah buku untuk anak, pilihlah yang sesuai dengan usia dan karakter yang dikaguminya.
Agar si kecil makin tertarik, pilihlah buku-buku yang mudah dicerna, berwarna, dan banyak gambarnya. Sekarang ini, hampir semua toko buku menyediakan ragam buku mengajarkan sopan santun untuk anak.
Sambil bermain
Mengadakan pesta minum teh di rumah memungkinkan Anda untuk mengajarkan anak-anak Anda, misalnya mengenai bagaimana mengatur meja, sampai tempat duduk.
Sementara anak-anak yang lebih muda bisa belajar sopan santun, anak-anak yang lebih tua dapat menikmati manfaat pesta teh. Mereka akan belajar banyak hal, menyajikan makanan di meja yang benar, meminta sesuatu yang berada di seberang meja, dan bagaimana menyudahi makanan.
Setelah Anda merasa ada kemajuan etiket etiket pada anak-anak, coba pertimbangkan untuk mengajak mereka menghadiri pesta minum teh secara formal.
Bermain sandiwara
Seni peran, misalnya main sandiwara, efektif untuk mengajarkan sopan santun pada si kecil. Untuk mengajarkan perilaku anak Anda melalui bermain peran, berikan contoh dialog, lalu jelaskan skenarionya.
Sebagai contoh, jika Anda ingin mengajarkan si kecil untuk selalu mengatakan "tolong," jelaskan apa pentingnya mengatakan kata itu dan pada situasi seperti apa harus mengatakannya pada orang lain.
Atau, ketika Anda ingin membiasakan si kecil mengatakan “terima kasih,” caranya Anda bisa menyerahkan mainan kepadanya. Lalu mendorong dia mengatakan “terima kasih.” Jangan lupa, Anda merespon dengan mengatakan “terima kasih kembali.”
Banyak hal soal etiket yang bisa Anda masukkan dalam permainan peran ini. Yang penting lagi, pastikan juga bahwa peran anak dalam permainan sandiwara ini sesuai dengan usianya.
-vivanews.com-
Setiap keluarga mempunyai cara sendiri-sendiri untuk menanamkan disiplin pada anak. Walau berbeda, sebenarnya tujuannya sama, yaitu menangani anak bandel atau yang bertingkah nakal.
Ketika Anda melihat si kecil berbuat kenakalan, entah itu di rumah, saat jalan-jalan di mal, atau ketika berkunjung rumah tetangga, mungkin secara refleks Anda akan berteriak, “Berhenti!” Atau, bisa jadi Anda akan memukul si kecil agar tidak melanjutkan perbuatannya.
Tahukah Anda, menurut pakar psikologi anak, menangani anak nakal dengan cara berteriak atau memukul dapat menimbulkan efek negatif pada emosi si kecil. Agar disiplin bisa dilatih sejak dini, kenali cara lain yang lebih efektif untuk buah hati Anda, seperti dikutip dari laman Modern Mom.
Beda usia, beda cara
Pertimbangkan usia anak Anda. Cara menanamkan disiplin pada anak tidak sama di tiap usia. Beda usia, beda cara. Misalnya, untuk anak berusia 15 bulan, Anda bisa menggunakan cara pengalihan perhatian untuk membuatnya disiplin. Berbeda dari anak usia yang lebih muda atau lebih tua dari itu, Anda mengabaikan mereka jika merengek-rengek atau bertindak tidak tepat, untuk mendapatkan perhatian Anda.
Beri contoh
Contohkan perilaku yang baik agar si kecil menirunya. Menurut penelitian, teknik itu selalu direspon baik oleh anak-anak. Sebab, memberi si kecil contoh dari apa yang harus dilakukan, bukan apa yang tidak boleh dilakukan.
Anak-anak lebih mudah meniru perilaku orang dewasa. Mereka lebih mudah menerima pendekatan itu dari pada diberi tahu apa yang tidak boleh mereka lakukan.
Berpegang pada aturan
Tetaplah berpegang pada aturan yang Anda tetapkan untuk buah hati. Setelah memberitahu harapan Anda pada si kecil, hal ini akan memperkuat perilaku yang ingin Anda lihat dari si kecil.
Beri penghargaan
Anda harus ingat untuk selalu menghargai anak Anda setiap kali dia menunjukkan perilaku baik. Lontarkan pujian kepada si kecil tidak hanya lewat kata-kata, tapi juga menawarkan hadiah favoritnya. Si kecil tentu akan merasa Anda benar-benar bangga pada dirinya sendiri.
Ungkapkan ketidaksetujuan Anda
Selalu ungkapkan pendapat Anda jika Anda merasa tingkahnya tidak tepat. Jelaskan kepadanya tentang perilaku yang tidak baik itu. Mengekspresikan pendapat Anda merupakan pendidikan keluarga yang bagus. Ini akan efektif mengubah perilaku si kecil.
Konsekuensi
Jika anak tidak disiplin atau melakukan kesalahan untuk pertama kalinya, segera ungkapkan kalau ia bersalah. Hal itu untuk menghindari ia melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Katakan juga padanya setiap kesalahan memiliki konsekuensi, salah satunya adalah hukuman. Hukuman bisa berupa tidak mengizinkannya menonton televisi beberapa hari atau memotong uang jajannya sementara waktu.
Jangan berikan hukuman fisik seperti memukul, hal itu hanya akan menimbulkan trauma dan bisa meregangkan hubungan Anda dengannya. Memberikan hukuman atau konsekuensi atas kesalahan anak juga melatih perkembangan psikologisnya. Mereka jadi lebih peka dan berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu kesalahan.
Ketika Anda melihat si kecil berbuat kenakalan, entah itu di rumah, saat jalan-jalan di mal, atau ketika berkunjung rumah tetangga, mungkin secara refleks Anda akan berteriak, “Berhenti!” Atau, bisa jadi Anda akan memukul si kecil agar tidak melanjutkan perbuatannya.
Tahukah Anda, menurut pakar psikologi anak, menangani anak nakal dengan cara berteriak atau memukul dapat menimbulkan efek negatif pada emosi si kecil. Agar disiplin bisa dilatih sejak dini, kenali cara lain yang lebih efektif untuk buah hati Anda, seperti dikutip dari laman Modern Mom.
Beda usia, beda cara
Pertimbangkan usia anak Anda. Cara menanamkan disiplin pada anak tidak sama di tiap usia. Beda usia, beda cara. Misalnya, untuk anak berusia 15 bulan, Anda bisa menggunakan cara pengalihan perhatian untuk membuatnya disiplin. Berbeda dari anak usia yang lebih muda atau lebih tua dari itu, Anda mengabaikan mereka jika merengek-rengek atau bertindak tidak tepat, untuk mendapatkan perhatian Anda.
Beri contoh
Contohkan perilaku yang baik agar si kecil menirunya. Menurut penelitian, teknik itu selalu direspon baik oleh anak-anak. Sebab, memberi si kecil contoh dari apa yang harus dilakukan, bukan apa yang tidak boleh dilakukan.
Anak-anak lebih mudah meniru perilaku orang dewasa. Mereka lebih mudah menerima pendekatan itu dari pada diberi tahu apa yang tidak boleh mereka lakukan.
Berpegang pada aturan
Tetaplah berpegang pada aturan yang Anda tetapkan untuk buah hati. Setelah memberitahu harapan Anda pada si kecil, hal ini akan memperkuat perilaku yang ingin Anda lihat dari si kecil.
Beri penghargaan
Anda harus ingat untuk selalu menghargai anak Anda setiap kali dia menunjukkan perilaku baik. Lontarkan pujian kepada si kecil tidak hanya lewat kata-kata, tapi juga menawarkan hadiah favoritnya. Si kecil tentu akan merasa Anda benar-benar bangga pada dirinya sendiri.
Ungkapkan ketidaksetujuan Anda
Selalu ungkapkan pendapat Anda jika Anda merasa tingkahnya tidak tepat. Jelaskan kepadanya tentang perilaku yang tidak baik itu. Mengekspresikan pendapat Anda merupakan pendidikan keluarga yang bagus. Ini akan efektif mengubah perilaku si kecil.
Konsekuensi
Jika anak tidak disiplin atau melakukan kesalahan untuk pertama kalinya, segera ungkapkan kalau ia bersalah. Hal itu untuk menghindari ia melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Katakan juga padanya setiap kesalahan memiliki konsekuensi, salah satunya adalah hukuman. Hukuman bisa berupa tidak mengizinkannya menonton televisi beberapa hari atau memotong uang jajannya sementara waktu.
Jangan berikan hukuman fisik seperti memukul, hal itu hanya akan menimbulkan trauma dan bisa meregangkan hubungan Anda dengannya. Memberikan hukuman atau konsekuensi atas kesalahan anak juga melatih perkembangan psikologisnya. Mereka jadi lebih peka dan berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu kesalahan.
-vivanews.com-
Anak yang sering berbicara dengan ayahnya, hidupnya lebih bahagia...
Menurut penelitian yang dilakukan tim peneliti dari University of York, Inggris, anak-anak yang sering berbicara dengan ayahnya, lebih bahagia dibandingkan mereka yang jarang berbicara.
Seperti dikutip dari Times of India, temuan ini berdasarkan analisa British Household Panel survei pada 1.200 anak dan remaja yang berusia antara 11 hingga 15 tahun. Anak muda yang mengatakan bahwa mereka selalu berbicara tentang berbagai hal pada ayahnya hampir setiap hari, skor kebahagiaannya mencapai 87 persen.
Sedangkan, yang jarang berbicara skor kebahagiannya 79 persen. Mereka mengatakan bahwa hampir tidak pernah atau jarang kepada ayahnya. Lalu, hampir setengah dari para anak muda, 46 persen, mengatakan mereka sangat sulit untuk berbicara topik penting pada sang ayah.
Seperti dikutip dari Times of India, temuan ini berdasarkan analisa British Household Panel survei pada 1.200 anak dan remaja yang berusia antara 11 hingga 15 tahun. Anak muda yang mengatakan bahwa mereka selalu berbicara tentang berbagai hal pada ayahnya hampir setiap hari, skor kebahagiaannya mencapai 87 persen.
Sedangkan, yang jarang berbicara skor kebahagiannya 79 persen. Mereka mengatakan bahwa hampir tidak pernah atau jarang kepada ayahnya. Lalu, hampir setengah dari para anak muda, 46 persen, mengatakan mereka sangat sulit untuk berbicara topik penting pada sang ayah.
Sementara, hanya 28 persen yang merasa sulit berbicara topik penting pada sang ibu. Dan, hanya 13 persen anak muda yang sering bercerita pada ayah mereka.
Penelitian dari komisi Children Society, Inggris juga menunjukan, para anak muda makin jarang berbicara pada ayahnya tentang isu-isu penting seiring pertambahan umurnya. Data menunjukan 42 persen, anak usia 11 tahun, lebih sering berbicara pada ayah mereka, dibandingkan anak 15 tahun, presentasenya hanya 16 persen.
Dari analisa diketahui ada sedikit perubahan selama bertahun-tahun dengan proporsi yang sama. Sebanyak 30 persen dari orang muda yang berbicara pada ayah mereka tentang sesuatu yang penting lebih dari hanya satu kali dalam seminggu.
Penelitian dari komisi Children Society, Inggris juga menunjukan, para anak muda makin jarang berbicara pada ayahnya tentang isu-isu penting seiring pertambahan umurnya. Data menunjukan 42 persen, anak usia 11 tahun, lebih sering berbicara pada ayah mereka, dibandingkan anak 15 tahun, presentasenya hanya 16 persen.
Dari analisa diketahui ada sedikit perubahan selama bertahun-tahun dengan proporsi yang sama. Sebanyak 30 persen dari orang muda yang berbicara pada ayah mereka tentang sesuatu yang penting lebih dari hanya satu kali dalam seminggu.
-vivanews.com-
Stimulasi berupa aneka permainan dan perlombaan kreativitas yang menyenangkan merupakan salah satu kunci optimalisasi untuk kecerdasan anak, selain pemberian nutrisi yang tepat dan seimbang.
Brand Manager Anmum System, PT Fonterra Brands Indonesia, Muliaman Mansyur, mengatakan saat lahir setiap bayi memiliki sekitar 100 miliar sel otak, namun kecerdasan anak tidak ditentukan oleh banyaknya sel otak melainkan jumlah terjadinya hubungan antarsel otak yang disebut dengan sinaps.
Stimulasi merupakan salah satu faktor yang diperlukan untuk mendorong terjadinya hubungan antarsel otak bayi. Kekuatan dan jumlah hubungan antarsel syaraf tersebut menjadi dasar untuk membantu proses belajarnya menjadi semakin cepat.
Tanpa stimulasi yang baik dan tepat, perkembangan otak bayi menjadi kurang optimal, akibatnya sinaps yang jarang atau tidak terpakai akan musnah. Untuk itu sangat penting artinya pemberian stimulasi secara rutin pada anak.
"Stimulasi perlu dilakukan secara rutin karena setiap kali anak berpikir atau memfungsikan otaknya, akan terbentuk sinaps baru untuk merespons stimulasi tersebut. Stimulasi yang terus-menerus akan memperkuat sinaps yang lama sehingga otomatis membuat fungsi otak akan makin baik," katanya, siang ini.
Dikatakan, orang tua memiliki peranan yang besar dalam memberikan stimulasi dan mengembangkan pola asuh anak, namun akibat kesibukan sehari-harinya terkadang orang tua tidak dapat memberikan perhatian penuh kepada anak.
Salah satu metode yang dipakai untuk menyiasati kebersamaan yang berkualitas dalam waktu sempit adalah dengan menggunakan floor time yakni orang tua dan anak menghabiskan waktu bersama, selama 20-30 menit tanpa interupsi untuk berinteraksi dan bermain.
Konsep-konsep yang harus diperhatikan dalam floor time adalah orang tua harus menyesuaikan permainan dengan minat anak, mencurahkan kasih sayang, dan memancing anak untuk merespons apa yang orang tua katakan dan lakukan.
"Floor time dapat mendekatkan hubungan orang tua dan anak, memperbaiki komunikasi dan sebagai wadah bagi orang tua dan anak untuk mencurahkan perasaan serta gagasan," katanya
Brand Manager Anmum System, PT Fonterra Brands Indonesia, Muliaman Mansyur, mengatakan saat lahir setiap bayi memiliki sekitar 100 miliar sel otak, namun kecerdasan anak tidak ditentukan oleh banyaknya sel otak melainkan jumlah terjadinya hubungan antarsel otak yang disebut dengan sinaps.
Stimulasi merupakan salah satu faktor yang diperlukan untuk mendorong terjadinya hubungan antarsel otak bayi. Kekuatan dan jumlah hubungan antarsel syaraf tersebut menjadi dasar untuk membantu proses belajarnya menjadi semakin cepat.
Tanpa stimulasi yang baik dan tepat, perkembangan otak bayi menjadi kurang optimal, akibatnya sinaps yang jarang atau tidak terpakai akan musnah. Untuk itu sangat penting artinya pemberian stimulasi secara rutin pada anak.
"Stimulasi perlu dilakukan secara rutin karena setiap kali anak berpikir atau memfungsikan otaknya, akan terbentuk sinaps baru untuk merespons stimulasi tersebut. Stimulasi yang terus-menerus akan memperkuat sinaps yang lama sehingga otomatis membuat fungsi otak akan makin baik," katanya, siang ini.
Dikatakan, orang tua memiliki peranan yang besar dalam memberikan stimulasi dan mengembangkan pola asuh anak, namun akibat kesibukan sehari-harinya terkadang orang tua tidak dapat memberikan perhatian penuh kepada anak.
Salah satu metode yang dipakai untuk menyiasati kebersamaan yang berkualitas dalam waktu sempit adalah dengan menggunakan floor time yakni orang tua dan anak menghabiskan waktu bersama, selama 20-30 menit tanpa interupsi untuk berinteraksi dan bermain.
Konsep-konsep yang harus diperhatikan dalam floor time adalah orang tua harus menyesuaikan permainan dengan minat anak, mencurahkan kasih sayang, dan memancing anak untuk merespons apa yang orang tua katakan dan lakukan.
"Floor time dapat mendekatkan hubungan orang tua dan anak, memperbaiki komunikasi dan sebagai wadah bagi orang tua dan anak untuk mencurahkan perasaan serta gagasan," katanya
-waspada.co.id-
JAKARTA - Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PNFI) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Hamid Muhammad mengatakan, Kemdiknas akan siap melakukan akreditasi program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada tahun 2011 mendatang. Menurutnya, hal ini diakibatkan masih sangat minimnya standar pendidikan PAUD yang tersebar di seluruh Indonesia.
Hamid menyebutkan, salah satu hal yang mengakibatkan minimnya standar program PAUD tersebut, adalah karena kurangnya sumber daya pelaksanaan di lapangan. "Meskipun pada tahun 2009 lalu Kemdiknas sudah mengeluarkan standar PAUD, namun masih ada saja PAUD yang muncul hanya bermodalkan semangat dan tanpa persiapan yang matang," ungkap Hamid di Jakarta, Senin (13/12).
Hamid menjelaskan, tahun 2010 ini Kemdiknas telah menyusun standar sebagai turunan standar PAUD, yang nantinya akan dijadikan suatu instrumen yang berfungsi untuk menata seluruh lembaga-lembaga PAUD. "Dengan begitu, ke depannya kita akan tata betul-betul lembaga-lembaga PAUD yang tidak layak dan cenderung tidak memberikan layanan yang optimal," tukasnya.
Lebih jauh, Hamid menambahkan, anggaran PAUD untuk tahun 2010 sendiri mencapai sebesar Rp 979 miliar. Sedangkan untuk tahun 2011 mendatang, Hamid memastikan akan bertambah dari anggaran sebelumnya, lantaran adanya reorganisasi yakni masuknya TK ke Ditjen PAUD. Sebelumnya, (pendidikan) TK ditangani langsung oleh Ditjen Mandikdasmen. "Tahun 2011 nanti, anggaran untuk PAUD diperkirakan mencapai Rp 1,4 triliun," sebutnya.
Sebelumnya, untuk mencapai tahapan penyusunan akreditasi PAUD, Direktur PAUD, Sudjarwo Singowidjoyo mengatakan, Kemdiknas telah melakukan pertemuan tingkat nasional program Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini. Pertemuan tersebut mengusung tema "Memperkokoh Komitmen Bersama untuk Mengembangkan PAUD dalam Rangka Membangun Karakter Bangsa".
"Rapat koordinasi ini dianggap sangat penting, mengingat PAUD merupakan salah satu program prioritas dari Kemdiknas, yang tentunya memiliki nilai strategis dalam pengembangan karakter bangsa di masa yang akan datang," ucapnya.
Secara khusus, kegiatan ini disebutkan bertujuan untuk memperkokoh komitmen antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengembangan program PAUD. Selain itu, program pengembangan PAUD juga didukung oleh bantuan dari Bank Dunia, Ibu Sheila Town dan Kerajaan Belanda, sesuai dengan nota kesepakatan program pengembangan PAUD di provinsi/kabupaten.
Hamid menyebutkan, salah satu hal yang mengakibatkan minimnya standar program PAUD tersebut, adalah karena kurangnya sumber daya pelaksanaan di lapangan. "Meskipun pada tahun 2009 lalu Kemdiknas sudah mengeluarkan standar PAUD, namun masih ada saja PAUD yang muncul hanya bermodalkan semangat dan tanpa persiapan yang matang," ungkap Hamid di Jakarta, Senin (13/12).
Hamid menjelaskan, tahun 2010 ini Kemdiknas telah menyusun standar sebagai turunan standar PAUD, yang nantinya akan dijadikan suatu instrumen yang berfungsi untuk menata seluruh lembaga-lembaga PAUD. "Dengan begitu, ke depannya kita akan tata betul-betul lembaga-lembaga PAUD yang tidak layak dan cenderung tidak memberikan layanan yang optimal," tukasnya.
Lebih jauh, Hamid menambahkan, anggaran PAUD untuk tahun 2010 sendiri mencapai sebesar Rp 979 miliar. Sedangkan untuk tahun 2011 mendatang, Hamid memastikan akan bertambah dari anggaran sebelumnya, lantaran adanya reorganisasi yakni masuknya TK ke Ditjen PAUD. Sebelumnya, (pendidikan) TK ditangani langsung oleh Ditjen Mandikdasmen. "Tahun 2011 nanti, anggaran untuk PAUD diperkirakan mencapai Rp 1,4 triliun," sebutnya.
Sebelumnya, untuk mencapai tahapan penyusunan akreditasi PAUD, Direktur PAUD, Sudjarwo Singowidjoyo mengatakan, Kemdiknas telah melakukan pertemuan tingkat nasional program Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini. Pertemuan tersebut mengusung tema "Memperkokoh Komitmen Bersama untuk Mengembangkan PAUD dalam Rangka Membangun Karakter Bangsa".
"Rapat koordinasi ini dianggap sangat penting, mengingat PAUD merupakan salah satu program prioritas dari Kemdiknas, yang tentunya memiliki nilai strategis dalam pengembangan karakter bangsa di masa yang akan datang," ucapnya.
Secara khusus, kegiatan ini disebutkan bertujuan untuk memperkokoh komitmen antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengembangan program PAUD. Selain itu, program pengembangan PAUD juga didukung oleh bantuan dari Bank Dunia, Ibu Sheila Town dan Kerajaan Belanda, sesuai dengan nota kesepakatan program pengembangan PAUD di provinsi/kabupaten.
-jpnn.com-
Kita tahu sekarang pemerintah betul-betul memfokuskan diri untuk mengembangkan PAUD di Indonesia ini, kira-kira sekitar 10 tahun terakhir ini kita focus mengembangkan PAUD. Ada beberapa alasan penting, kenapa PAUD diprioritaskan.

Bahkan Kemdiknas untuk 5 tahun ke depan telah mencantumkan prioritas utama program pendidikan untuk 5 tahun ke depan PAUD yang pertama dan utama. Minimal ada 4 alasan penting yang secara ilmiah sudah dibuktikan di beberapa negara.
“Jadi yang pertama, adalah masalah pengembangan intelektual anak itu 50 persen terjadi di usia 0 – 4 tahun. Jadi usia 0 – 4 tahun itulah masa yang harus kita bina betul, karena 50 persen perkembangan kecerdasan intektual anak terjadi pada usia ini,” ujar Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal, Hamid Muhammad, saat membuka Pertemuan Tingkat Nasional Program Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini, di Jakarta, Kamis, (9/12).
Kemudian kata dia, 4 tahun berikutnya, di usia 8 tahun tumbuh kembali 30 persennya. Artinya apa, usia 0 – 8 tahun orang sering menyebutnya sebagai usia emas, usia yang tidak boleh dilewatkan dalam perkembangan manusia, karena memang 80 persen perkembangan intelektual anak itu terjadi pada usia 0 – 8 tahun.
Hamid menjelaskan, Itulah kenapa, yang namanya PAUD, yang menurut versi UNESCO adalah 0 – 8 tahun, tetapi kalau UU Sisdiknas 0 – 6 tahun. Disinilah kita bisa membuat generasi yang kita inginkan, dengan memberikan prioritas pendidikan sebaik mungkin bagi anak-anak kita ke depan.
Alasan kedua katanya, bukan hanya kecerdasan intelektual yang tumbuh di masa PAUD ini, tetapi perkembangan kepribadian, perkembangan kemampuan seseorang secara menyeluruh juga terjadi pada usia PAUD ini.
Itulah kenapa, pembentukan karakter yang paling kuat dan paling optimum di usia dini, kita mengajarkan kejujuran, kedisiplinan, kemampuan untuk mandiri, itu harus ditanamkan pada masa usia dini.
Alasan ketiga, berbagai penelitian menunjukkan betapa PAUD itu menentukan suksesnya seseorang di masa depannya, termasuk menentukan kegagalan seseorang di masa depan.
Karena anak yang mendapatkan layanan PAUD lebih percaya diri dan lebih siap untuk belajar di tingkat SD dan tingkat berikutnya. Itulah kenapa PAUD itu menentukan angka drop out, menentukan prestasi seseorang pada tingkat satuan pendidikan di atasnya dan bahkan menentukan prestasi seseorang di masa depannya.
Sedangkan alasan ke empat, kata dia, adalah kalau ibu dan bapak sekalian ahli ekonomi, suka menghitung-hitung, berapa sebenarnya tingkat return sebuah investasi di bidang pendidikan, dibandingkan dengan investasi disatuan pendidikan lainnya, bahwa tingkat pengembalian/return yang diterima oleh seorang anak yang memperoleh pendidikan PAUD dan yang tidak itu sangat-sangat jauh sekali.
Sementara itu Direktur PAUD, Sudjarwo Singowidjoyo, mengatakan, pertemuan tingkat nasional program Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini ini diwujudkan dengan tema Memperkokoh Komitmen Bersama Untuk Mengembangkan PAUD dalam Rangka Membangun Karakter Bangsa.
Rapat koordinasi ini kami anggap sangat penting, mengingat pendidikan anak usia dini merupakan salah satu program prioritas dari Kementrian Pendidikan Nasional yang tentunya memiliki nilai strategis dalam pengembangan karakter bangsa di masa yang akan datang, ucapnya.
Secara khusus kegiatan ini bertujuan, diantaranya, untuk memperkokoh komitmen antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengembangan program PAUD, khususnya program pengembangan PAUD, yang didukung oleh bantuan dari Bank Dunia, Ibu Sheila Town dan kerajaan Belanda, sesuai dengan Nota Kesepakatan program pengembangan PAUD di propinsi/kabupaten.
Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk melakukan refleksi dan evaluasi perkembangan dan hambatan dalam pelaksanaan program pengembangan PAUD di 50 kabupaten/kota di 21 propinsi.
Termasuk untuk mensosialisasikan kebijakan dan rencana strategis program pengembangan PAUD di masa yang akan datang khususnya untuk tahun 2010 – 2014 dan untuk menyusun rencana tindak lanjut pembinaan program pengembangan PAUD yang disepakati antara pemerintah pusat dan daerah.
Menurut Sudjarwo, hasil yang diharapkan dari pertemuan ini antara lain adalah, agar terjadinya persamaan satu persepsi dalam memahami tentang kebijakan PAUD baik di tingkat nasional maupun implementasinya di tingkat daerah.
Harapan kedua adalah untuk melakukan suatu sinkronisasi pelaksanaan pembinaan program pengembangan PAUD, dengan dinas pendidikan propinsi/kabupaten, serta Bappeda dan instansi terkait lainnya.
Harapan lainnya adanya kesepakatan tingkat nasional untuk menjaga keberlangsungan program pengembangan PAUD di 21 propinsi dan 50 kabupaten, setelah nanti berakhirnya bantuan dari Bank Dunia setelah 2013.
Pada pertemuan nasional ini kami mengundang 313 para pemangku kebijakan, yang terkait dengan implementasi pelaksanaan program pengembangan PAUD di 21 propinsi dan 50 kabupaten.
-bipnewsroom.info-
Cerita, baik yang nyata maupun dongeng dan sebagainya, dapat meningkatkan kecerdasan berbahasa anak pada usia dini. Untuk itu, seorang pendidik diharapkan perlu mengembangkan pembelajaran tentang berbagai hal melalui penyampaian cerita berupa dongeng kepada peserta didik di lembaganya.
Demikian diungkapan Kepala Bidang Pendidikan Non-Formal Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang Winaryu Kustiyah di Rembang, Jawa Tengah, Rabu (8/12/2010). Walau demikian, kata Winaryu, cerita-cerita tersebut tak boleh lepas begitu saja dari sisi nilai-nilai pendidikan pekerti anak.
"Melalui cara ini seorang guru juga dapat merangsang kecerdasan intelegensi, kemampuan berpikir secara logis sistematis, kemampuan berinteraksi, hingga selera berbahasa dan seni," ujar Winaryu.
"Kecerdasan hati yang meliputi kecerdasan emosional dan spiritual memang terdapat pada cerita-cerita yang dilontarkan kepada anak. Jangan sampai para guru membeberkan cerita yang melenceng dari nilai pekerti," tambahnya.
Menurutnya, selama ini asupan pendidikan lebih ditekankan pada pengembangan kecerdasan intelegensi anak didik dan hal itu bisa disampaikan melalui cerita-cerita atau dongeng.
Lebih lanjut, Winaryu mengatakan, kesadaran berdisiplin pun dapat ditanamkan melalui cerita-cerita yang mengandung nilai-nilai kedisiplinan. Ia mengatakan, anak usia dini, terutama di bawah usia lima tahun, memiliki aktivitas yang spontan, alami, dan sangat bersemangat untuk mengetahui hal-hal yang baru ditemui atau dialaminya.
"Oleh karena itu, setiap guru yang bercerita perlu memahami kondisi anak didik, terutama proses tumbuh kembang kreativitasnya," katanya.
Ia berharap, para guru pendidikan anak usia dini (PAUD) memiliki minat tinggi dalam hal membaca dan mengasah keterampilan berkomunikasi sebagai bekal bercerita kepada anak atau siswa.
-kompas.com-
Untuk mencetak pemimpin yang berkualitas dan berkarakter daya saing, mandiri, dinamis berorientasi iptek, bermoral dan berakhlak mulia maka pembangunan karakter bangsa harus dimulai sejak usia dini melalui guru, sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan dalam keluarga sebagai modal dasar.
Membangun karakter sejak dini sangat penting bagi orang tua dan guru, harapanya agar anak sejak dini memiliki karakter yang baik, membangun karakter anak bisa dilakukan melalui jalur pendidikan formal maupun non formal, kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana, MA, pada acara wisuda Universitas Terbuka di Pondok Cabe Tangerang Selatan, Senin (22/11).
Model pertumbuhan ekonomi menjelaskan bahwa investasi pendidikan mempunyai dampak besar dalam pertumbuhan ekonomi.
Sementara pandangan mengenai Universitas Terbuka (UT) menurut Armida, UT merupakan perguruan tinggi yang mempunyai peran sangat strategis bagi guru guru di daerah yang jauh dari perguruan tinggi karena mereka bisa mengakses pendidikan di UT sehingga dapat meningkatkan kualitasnya.
Dalam pilar pendidikan dan aspek pemerataan UT sudah menjangkau keseluruh Indonesia oleh sebab itu UT merupakan perguruan Tinggi yang sangat strategis dalam peran pendidikan.
Sementara Rektor UT, Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed. Ph.D mengungkapkan, pemimpin tidak bisa jalan sendiri, pemimpin harus ada orang yang mendukung dibelakangnya untuk mempersatukan visi dan misinya sehingga seorang pemimpin mempunyai kekuatan.
Setiap orang tua ingin sekali anak-anaknya memiliki kecerdasan, keterampilan dan kreativitas yang terbentuk dengan baik. Banyak cara dan jalan agar anak-anak kita menjadi anak yang cerdas, terampil dan kreatif dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, di mana akan menjadi suatu kebiasaan atau hobi.
Misalkan saja dengan musik. Dengan anak-anak memiliki hobi bermusik, anak-anak pun dapat banyak berkreativitas. Sehingga keterampilan anak pun semakin bertambah dan tingkat kecerdasan anak dapat bertambah pula.
Dengan musik mereka dapat mengenal banyak suara dan bunyi-bunyian. Mereka dapat mengenal nada-nada dan irama-irama. Selain itu mereka dapat memainkan alat musik sekaligus bernyayi yang di mana dengan hal tersebut anak-anak menjadi kreatif dan berani tampil.
Tidak terlalu sulit membuat anak-anak kita menjadi anak yang cerdas, terampil dan kreatif. Di sini penulis akan coba berbagi untuk para Ibu agar anak-anak menjadi hebat dan kreatif, dengan memperkenalkan musik dari dini.
1. Mulai biasakan bagi ibu hamil suka dan sering mendengar musik. Sebagai terapi musik untuk anak. Musik itu sangat bagus sekali bagi pertumbuhan janin atau calon bayi yang ada di rahim.
2. Bila sang bayi telah lahir, perkenalkan sang bayi dengan bunyi dan suara dengan mengajaknya berbicara, tersenyum dan tertawa.
3. Mulai ajarkan si kecil kita mencari bunyi dengan cara mengeksplorasi segala hal di sekitarnya dengan tangan maupun kakinya. Karena si kecil sangat menikmati kegiatan tersebut, di mana kegiatan itu dapat menciptakan respons si kecil menjadi senang.
4. Ajarkan si kecil mulai berbicara, diawali dengan satu dua huruf konsonan dan vokal. Sehingga dengan begitu si kecil mulai berlatih untuk kemampuan bicaranya dan dapat membedakan mana suara dan mana berbicara.
5. Si kecil yang sudah mulai menginjak 1 tahun, dapat kita ajarkan untuk meniru suara-suara (dari suara hewan sampai suara-suara yang ada di alam terbuka), selain itu juga mulai diajarkan bernyanyi lagu anak-anak.
6. Tidak ketinggalan pula apabila si kecil sudah mulai bisa bernyanyi, kenalkan pada mereka juga beberapa alat atau instrumen musik yang dapat membantu keterampilan mereka.
7. Si kecil yang sudah mengenal, menyukai dan bisa bernyanyi serta memainkan alat musik, ibu dapat membantu si kecil untuk memasukkan dan mengikuti les musik yang berguna untuk lebih mengembangkan keterampilan serta potensinya. Sehingga kemampuannya dalam bermusik pun semakin berkembang dan terciptanya kreativitas anak.
Misalkan saja dengan musik. Dengan anak-anak memiliki hobi bermusik, anak-anak pun dapat banyak berkreativitas. Sehingga keterampilan anak pun semakin bertambah dan tingkat kecerdasan anak dapat bertambah pula.
Dengan musik mereka dapat mengenal banyak suara dan bunyi-bunyian. Mereka dapat mengenal nada-nada dan irama-irama. Selain itu mereka dapat memainkan alat musik sekaligus bernyayi yang di mana dengan hal tersebut anak-anak menjadi kreatif dan berani tampil.
Tidak terlalu sulit membuat anak-anak kita menjadi anak yang cerdas, terampil dan kreatif. Di sini penulis akan coba berbagi untuk para Ibu agar anak-anak menjadi hebat dan kreatif, dengan memperkenalkan musik dari dini.
1. Mulai biasakan bagi ibu hamil suka dan sering mendengar musik. Sebagai terapi musik untuk anak. Musik itu sangat bagus sekali bagi pertumbuhan janin atau calon bayi yang ada di rahim.
2. Bila sang bayi telah lahir, perkenalkan sang bayi dengan bunyi dan suara dengan mengajaknya berbicara, tersenyum dan tertawa.
3. Mulai ajarkan si kecil kita mencari bunyi dengan cara mengeksplorasi segala hal di sekitarnya dengan tangan maupun kakinya. Karena si kecil sangat menikmati kegiatan tersebut, di mana kegiatan itu dapat menciptakan respons si kecil menjadi senang.
4. Ajarkan si kecil mulai berbicara, diawali dengan satu dua huruf konsonan dan vokal. Sehingga dengan begitu si kecil mulai berlatih untuk kemampuan bicaranya dan dapat membedakan mana suara dan mana berbicara.
5. Si kecil yang sudah mulai menginjak 1 tahun, dapat kita ajarkan untuk meniru suara-suara (dari suara hewan sampai suara-suara yang ada di alam terbuka), selain itu juga mulai diajarkan bernyanyi lagu anak-anak.
6. Tidak ketinggalan pula apabila si kecil sudah mulai bisa bernyanyi, kenalkan pada mereka juga beberapa alat atau instrumen musik yang dapat membantu keterampilan mereka.
7. Si kecil yang sudah mengenal, menyukai dan bisa bernyanyi serta memainkan alat musik, ibu dapat membantu si kecil untuk memasukkan dan mengikuti les musik yang berguna untuk lebih mengembangkan keterampilan serta potensinya. Sehingga kemampuannya dalam bermusik pun semakin berkembang dan terciptanya kreativitas anak.
-kabarindonesia.com-
MEDAN- Kecerdasan berbahasa anak tak harus dikembangkan melalui belajar bahasa. Namun melalui penyampaian cerita berupa dongeng merupakan hal yang cukup memungkinkan.
Psikolog Kota Medan Irna Minaul mengatakan, penyampaian cerita baik itu cerita rakyat yang nyata, dongeng dan sebagainya, dapat meningkatkan kecerdasan berbahasa anak.
“Melalui cara ini seorang guru dapat merangsang kecerdasan intelegensia, kemampuan berpikir secara logis sistematis, kemampuan berinteraksi hingga selera berbahasa dan seni,” terangnya kepada wartawan, Rabu (17/11).
Nah, lanjutnya, cerita-cerita ini tak boleh dilepas begitu saja dari sisi pengembangan pendidikan. “Karena kecerdasan hati yang meliputi kecerdasan emosional dan spiritual terdapat pada cerita-cerita yang kita lontarkan kepada anak,” kata Irna.
Menurut Irna, jika selama ini asupan pendidikan lebih ditekankan pada pengembangan kecerdasan intelegensia anak didik, lewat cerita-cerita ini juga bisa. “Hal ini dapat mengasah kecerdasan hati, karena banyak cerita-cerita baik yang berasal dari nusantara maupun dari mancanegara mengusung nilai moral dasar,” tuturnya seraya menambahkan, penyampaian cerita-cerita ini juga mampu merangsang imajinasi dan kreativitas anak.
Lebih lanjut Irna mengatakan, kesadaran berdisiplin dapat ditanamkan melalui cerita-cerita yang mengandung nilai-nilai kedisiplinan.
Irna mengatakan, anak usia dini terutama di bawah usia lima tahun memiliki aktivitas yang spontan, alami, dan sangat bersemangat untuk mengetahui hal-hal yang baru ditemui atau dialaminya. “Oleh sebab itu, setiap guru yang bercerita perlu memahami kondisi anak didik, terutama proses tumbuh kembang kreativitasnya,” ujarnya.
Irna berharap, para guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki minat tinggi dalam hal membaca dan mengasah keterampilan berkomunikasi sebagai bekal bercerita kepada anak atau siswa.
-hariansumutpos.com-
Di Pulau Bali yang indah, ada anak laki-laki yang bernama Made. Ia malas berpikir dan sukanya tidur. Ayahnya menyuruh dia gembala ternak... Begitu awal cerita yang dinarasikan. Lalu, semua pengunjung yang memenuhi ruangan Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Kamis (11/11/2010) siang, matanya tertuju ke panggung.
Bayangkan, anak-anak yang masih duduk di taman kanak-kanak, bisa menyajikan cerita rakyat yang begitu menarik ditonton di pentas. Mereka anak TKK Penabur 10, Pantai Kapuk, yang mementaskan cerita rakyat Bali berjudul Made dan Keempat Sahabatnya.
Singkat cerita, ketika mengalami kesulitan karena didenda orangtua agar mengganti kehilangan ternak gembalaannya dengan 40 keping emas, Made mendapat pertolongan dari binatang-binatang yang ditolong Made sebelumnya.
Ketika suatu kerajaan menggelar perlombaan berhadiah emas, Made dan empat temannya ikut serta. Keempat teman Made juara di empat jenis perlombaan, tanpa kalah sekali pun. Sehingga, hadiah emas sebagian dari harta kekayaan kerajaan diraih Made dan kawan-kawan.
Dasar Made orangnya baik dan jujur, ia tak mau dikasih emas terlalu banyak. Cukup 40 keping saja. Ketika Made pulang membawa kepingan emas itu, orangtuanya kaget tak percaya. Ternyata Made ketika diberi tantangan, baru diketahui bahwa ia seorang anak yang cerdas, rajin, jujur, dan suka bekerja keras. Tidak seperti gambaran awal, pemalas dan suka tidur.
Kisah Made tersebut ditampilkan di panggung dengan baik, menarik, dan lucu di panggung Festival Bercerita IX, yang digelar Kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) bekerjasama dengan BBJ, Grasindo, Kementerian Diknas, dan Mandiri Investasi.
Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengaku terharu dan bahagia. "Saya terharu dan merasa bahagia. Cerita rakyat membuat hati kita bangga. Selamat buat Pak Raden dan para guru," katanya.
Fasli Jalal, ketika membuka Festival Bercerita IX, membacakan cerita rakyat dari Manokwari, berjudul Masarasenani dan Matahari. Cerita berdurasi sembilan menit itu mampu dibawakan Fasli dengan sangat menggugah. Masing-masing tokoh, dibawakan Fasli dengan warna suara, intonasi dan tekanan, serta karakter yang berbeda.
Upaya mencerdaskan
Festival Bercerita yang rutin digelar sekali dua tahun sejak 20 tahun lalu berdirinya Kelompok Pecinta Bacaan Anak (KPBA), menurut Ketua KPBA Murti Bunanta, adalah upaya mencerdaskan bangsa lewat beragam acara yang bersifat edukatif.
"Kami menyelenggarakan festival ini selama bertahun-tahun dengan tujuan untuk melestarikan budaya membaca bahasa Indonesia dan keragaman Nusantara. Kami tidak hanya fokus kepada anak-anak, namun juga kepada guru-guru dengan cara memberikan pelatihan kepada pengajar anak-anak usia dini agar mereka memiliki keterampilan dalam menceritakan cerita-cerita yang sarat akan pesan moral kepada anak-anak," jelasnya.
Pada hari pertama Festival Bercerita, Duta Besar Slovakia Stefan Rozkopal, tidak saja menunjukkan kemampuannya bercerita kepada anak-anak, tetapi juga kemampuannya berbahasa Indonesia dengan baik dan lancar. Stefan membacakan cerita berjudul Kancil dan Raja Hutan.
Sebaliknya, seorang murid kelas 6 SD di Surabaya bernama Jasmine Wirawan malah bercerita dalam bahasa Inggris. Tampil sendirian mementaskan cerita Suwidak Loro, yang ditulis Murti Bunanta, Jasmine tampil energik, lincah, kocak, dan tentu saja menarik.
Presiden Direktur Mandiri Investasi, Abiprayadi Riyanto, pun tampil membacakan cerita dari Aceh berjudul Anak Kucing yang Manja.
Menurut Abiprayadi, pelestarian budaza membaca bacaan brevaza Indonesia sangatlah penting bagi anak-anak Indonesia. "Di era modernisasi dan teknologi yang semakin canggih ini, anak-anak Indonesia harus tetap diajarkan untuk mengenal dan mencintai cerita dari negerinya. Indonesia Sangat kaya akan cerita rakyat dan pahlawan yang memiliki pesan budi pekerti luhur yang dapat menjadi suri teladan anak dalam berprilaku di masyarakat," ungkapnya.
Melalui festival ini, Mandiri Investasi memberikan bantuan buku cerita rakyat dwibahasa yang akan disumbangkan ke berbagai sekolah dan perpustakaan di 10 kota di Indonesia. Selain itu, buku juga akan diserahkan kepada 30 orang perwakilan guru pendidikan anak usia dini (PAUD) yang akan berada di Yakarta, untuk mengikuti pelatihan bercerita yang diselenggarakan oleh KPBA.
-kompas.com-
Selain pengenalan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) tidak diperkenankan untuk diajarkan secara langsung sebagai pembelajaran kepada para anak didik di Taman Kanak-kanak (TK), tidak dibenarkan pula siswa TK dites dan diuji terlebih dulu untuk melanjutkan ke tingkat Sekolah Dasar.
Demikian dikatakan oleh Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Suyanto kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (12/2/2010), terkait adanya pembelajaran calistung di TK dan tes uji anak didik TK sebelum masuk SD, terutama di sekolah-sekolah swasta. Suyanto menegaskan, apapun bentuknya, tes tersebut tidak diperkenankan.
Aturan main untuk persoalan tersebut, kata Suyanto, sudah tertuang dalam Surat Edaran dari Dirjen Dikdasmen Nomor: 1839/C.C2/TU/2009 yang ditujukan kepada para gubernur dan bupati/walikota di seluruh Indoensia. Surat edaran itu menyebutkan, bahwa kriteria calon peserta didik SD/MI berusia sekurang-kurangnya 6 (enam) tahun, pengecualian terhadap usia peserta didik yang kurang dari 6 (enam) tahun dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari pihak yang berkompeten, seperti konselor sekolah/madrasah maupun psikolog.
Oleh karena itu, lanjut dia, setiap SD wajib menerima peserta didik tanpa melalui tes masuk dan tetap memprioritaskan pada anak-anak yang berusia 7 sampai 12 tahun dari lingkungan sekitarnya tanpa diskriminasi sesuai daya tampung satuan pendidikan yang bersangkutan.
"Jadi, tidak ada itu tes-tes masuk. Di situ kan sudah dijelaskan, bahwa masuk SD itu ukurannya hanya usia, bukan kemampuan akademik melalui sebuah tes," tegasnya.
Hanya, lanjut Suyanto, Kementrian Pendidikan Nasional (pemerintah) tidak bisa mengambil tindakan atau sanksi apapun karena sekolah memiliki otonomi. Pun, wacana mengenai himbauan ini sendiri sudah berulang kali dilakukan oleh pemerintah, sementara kenyataannya tetap banyak sekolah yang melakukan.
"Biasanya kalau di SD favorit hal itu dilakukan untuk penyaringan kualitas calon-calon anak didiknya. Tetapi terlepas dari itu, intinya kami (pemerintah) sudah menegaskan tidak diperbolehkan ada tes. Alasan penyaringan kualitas itu masuk akal, tapi tidak benar," tegas Suyanto.
"Sayangnya kami tidak bisa menindak, seharusnya yang menindak itu pemerintah daerah melalui dinas pendidikannya," tambah Suyanto.
Jangan Panik dengan Tes Masuk SD
Dulu, masuk ke Sekolah Dasar (SD) tidak perlu pakai tes. Asalkan cukup umur, 6-7 tahun, anak bisa masuk SD, baik di sekolah negeri atau swasta. Sekarang, umur saja tidak cukup. Mau masuk SD, anak harus dites dulu. Sudah bisa baca belum? Kenal huruf enggak? Sudah pandai menghitung sampai berapa?
Maria, seorang guru TK internasional dengan pengalaman mengajar 10 tahun, memahami betul dilema adanya tes masuk SD ini. "Intinya, semua anak berhak mendapat pendidikan. Kalau pun anak itu kurang pintar, apa malah dia tak boleh sekolah?" tuturnya pada Kompas.com, Jumat (12/2/2010).
Ia mengatakan, sebenarnya lain sekolah bisa lain kebijakan. Tetapi kebanyakan sekolah berstandar internasional atau nasional plus kini sudah memberlakukan tes baca-tulis-hitung (calistung) pada anak-anak sebelum dibukanya penerimaan murid. Memang, lanjut dia, ada sekolah yang sekedar ingin tahu kemampuan anak. Pun, karena kapasitas kelasnya besar, anak kemungkinan besar diterima, kecuali ada keterbelakangan mental maka itu lain soal lagi.
"Yang penting orang tua jangan negative thinking saja," pesan Maria, agar orang tua tidak menjadi terlalu cemas anaknya ketinggalan.
Toh, kata dia, makin banyak murid pendapatan sekolah juga semakin lancar. Namun dia juga mengakui, ada sekolah yang lebih ketat penerimaannya, entah karena keterbatasan kapasitas atau alasan lainnya. Namun, karena orang tua panik dan mengira anaknya harus sudah bisa calistung maka, pihak guru pun panik.
"Kita juga sebagai guru ikut tertekan. Kalau anaknya belum bisa kita yang dipersalahkan, dan si anak juga jadi stres karena merasa tak bisa," keluh Maria.
Etis, seorang supervisor sekolah TK dan SD di kawasan Kelapa Gading, menyatakan bahwa di sekolahnya memang untuk masuk SD ada tes baca tulis. "Tapi sifatnya lebih untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan si anak, dan bagaimana membantu mengatasi kelemahan yang ada," ujarnya.
"Ya, orang tua juga dijelaskan tentang ini," jawabnya tentang orang tua juga diberi penjelasan yang cukup agar tidak panik.
Roslina Verauli, psikolog anak, mengenai tes masuk SD ini ikut memberikan tanggapannya. Roslina mengaku suka dengan adanya ujian. Hanya, kata dia, yang diujikan semestinya bukanlah materi akademis atau calistung, melainkan tes kemampuan dan konsep dasar.
"Ada kekeliruan, orang merasa anak harus bisa calistung untuk masuk SD," tambahnya.
Untuk itu, Roslina menyarankan agar ada persamaan persepsi dulu di masyarakat, baik antara pihak sekolah, pengajar, dan orang tua agar tidak terjadi kekhawatiran yang ujung-ujungnya menekan si anak.
-kompas.com-
Pengenalan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) tidak diperkenankan untuk diajarkan secara langsung sebagai pembelajaran kepada para anak didik di taman kanak-kanak.
Calistung harus dalam kerangka pengembangan seluruh aspek tumbuh kembang anak, dilakukan sambil bermain, dan disesuaikan dengan tugas perkembangan anak. Selain itu, juga tidak dibenarkan siswa TK dites dan diuji terlebih dulu untuk melanjutkan ke tingkat sekolah dasar.
Demikian ditegaskan Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Suyanto kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (12/2/2010), terkait adanya pembelajaran calistung di TK dan tes uji anak didik TK sebelum masuk SD, terutama di sekolah-sekolah swasta.
"Tidak boleh ada calistung di TK kecuali diajarkan hanya pada tataran pedagogis saja, dan tidak benar kalau ada sekolah yang memberikan tes. Itu bukan praktik yang baik," ujar Suyanto.
Suyanto menuturkan, seperti tertuang dalam Surat Edaran dari Dirjen Dikdasmen Nomor: 1839/C.C2/TU/2009 yang ditujukan kepada para gubernur dan bupati/wali kota di seluruh Indonesia, TK seharusnya hanya menciptakan lingkungan yang kaya dengan beragam bentuk keaksaraan yang akan lebih memacu kesiapan anak didiknya untuk memulai kegiatan calistung di tingkat lanjutan, yaitu sekolah dasar.
Dia menambahkan, pendekatan bermain sebagai metode pembelajaran di TK hendaknya disesuaikan dengan perkembangan usia dan kemampuan anak didik, yaitu secara berangsur-angsur dikembangkan dari bermain sambil belajar (unsur bermain lebih dominan) menjadi belajar seraya bermain (unsur belajar mulai dominan).
"Jadi, semacam tingkat persiapan sehingga anak didik tidak merasa canggung untuk menghadapi pendekatan pembelajaran pada jenjang pendidikan selanjutnya di SD," ujarnya.
Usia TK Itu Usia Bermain Lho, Bukan Calistung....
Belum sepantasnya guru TK menekankan kemampuan baca, tulis, dan berhitung atau calistung kepada anak-anak didiknya. Memang, hal itu akan meringankan kerja guru SD. Namun, yang seharusnya dicamkan oleh semua pihak adalah usia TK itu merupakan usia anak untuk bermain.
"Yang perlu diajarkan kepada anak-anak itu hanya motorik kasar, seperti keseimbangan sebagai bekal untuk konsentrasi atau melompat dan lain-lain sejenisnya, sedangkan untuk motorik halus perlu diberikan agar nantinya di SD mereka terbiasa memegang pensil, belajar menggaris atau menggunting," ujar Irma Juliasmi Nasution, guru SD Islam Dian Didaktika, kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (10/3/2010).
Di TK, guru kelas I SD ini mengatakan bahwa siswa seharusnya baru diberi pengenalan huruf dan tidak lebih. Kalaupun ada, maka hal itu bukan menjadi target utama pembelajaran.
"Sebetulnya, kenapa anak-anak TK itu diajarkan calistung juga karena tuntutan para orangtuanya sendiri. Mereka banyak yang protes, kenapa anak mereka kok diajarinya cuma menggambar, mewarnai, menggunting, tidak diajarkan membaca," ujar Juli, sapaan akrabnya.
"Mereka tidak tahu, belajar motorik halus dan kasar untuk anak usia TK jauh lebih penting dan dibutuhkan ketimbang belajar membaca," tambahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya di harian Kompas, sejumlah guru TK kini "terpaksa" menekankan kemampuan calistung kepada siswanya. Ini disebabkan adanya seleksi dan persyaratan bahwa siswa harus bisa membaca dan menulis saat masuk SD. Akibat kebijakan itu, guru TK kurang optimal memprioritaskan upaya merangsang dan mengembangkan potensi anak secara holistik.
Opih R Zainal, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Persatuan Guru Republik Indonesia, Selasa (9/3/2010) di Jakarta, mengatakan bahwa mengajarkan calistung sebenarnya tidak dilarang di jenjang pendidikan TK.
"Asal pengenalan calistung itu dilakukan bukan dengan cara memaksa dan drilling. Banyak cara, misalnya lewat lagu dan permainan, kemampuan baca, tulis, dan berhitung anak bisa berkembang dengan baik dan tidak membuat anak stres. Tetapi tetap saja, ada TK yang memfokuskan ke calistung dengan alasan lebih diminati dan memang diminta orangtua," ujar Opih.
"Yang perlu diajarkan kepada anak-anak itu hanya motorik kasar, seperti keseimbangan sebagai bekal untuk konsentrasi atau melompat dan lain-lain sejenisnya, sedangkan untuk motorik halus perlu diberikan agar nantinya di SD mereka terbiasa memegang pensil, belajar menggaris atau menggunting," ujar Irma Juliasmi Nasution, guru SD Islam Dian Didaktika, kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (10/3/2010).
Di TK, guru kelas I SD ini mengatakan bahwa siswa seharusnya baru diberi pengenalan huruf dan tidak lebih. Kalaupun ada, maka hal itu bukan menjadi target utama pembelajaran.
"Sebetulnya, kenapa anak-anak TK itu diajarkan calistung juga karena tuntutan para orangtuanya sendiri. Mereka banyak yang protes, kenapa anak mereka kok diajarinya cuma menggambar, mewarnai, menggunting, tidak diajarkan membaca," ujar Juli, sapaan akrabnya.
"Mereka tidak tahu, belajar motorik halus dan kasar untuk anak usia TK jauh lebih penting dan dibutuhkan ketimbang belajar membaca," tambahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya di harian Kompas, sejumlah guru TK kini "terpaksa" menekankan kemampuan calistung kepada siswanya. Ini disebabkan adanya seleksi dan persyaratan bahwa siswa harus bisa membaca dan menulis saat masuk SD. Akibat kebijakan itu, guru TK kurang optimal memprioritaskan upaya merangsang dan mengembangkan potensi anak secara holistik.
Opih R Zainal, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Persatuan Guru Republik Indonesia, Selasa (9/3/2010) di Jakarta, mengatakan bahwa mengajarkan calistung sebenarnya tidak dilarang di jenjang pendidikan TK.
"Asal pengenalan calistung itu dilakukan bukan dengan cara memaksa dan drilling. Banyak cara, misalnya lewat lagu dan permainan, kemampuan baca, tulis, dan berhitung anak bisa berkembang dengan baik dan tidak membuat anak stres. Tetapi tetap saja, ada TK yang memfokuskan ke calistung dengan alasan lebih diminati dan memang diminta orangtua," ujar Opih.
-kompas.com-
Ibu mana yang tak bangga melihat anaknya lebih menonjol ketimbang teman-temannya dalam pelajaran sekolah? Dalam berbagai kesempatan, si ibu pasti tak bosan bercerita tentang anak kebanggaannya, selain berusaha memberikan yang terbaik kepada anaknya.
Enda (35), misalnya, setiap malam berusaha meluangkan waktu untuk memantau pelajaran sekolah anaknya. "Meski capek, saya berusaha tetap memeriksa PR yang diberikan, bahkan mengajari apabila ada hal yang kurang jelas," tutur Enda.
Tak ada yang salah dengan upaya mencetak anak cerdas dan kreatif. Persoalannya, sampai di mana upaya-upaya tersebut bermanfaat bagi anak? Selain itu, persoalan berikutnya, sampai sejauh mana anak dapat mengikuti tanpa merasa terpaksa sehingga akhirnya justru tidak produktif dan menjadi masalah di kemudian hari?
Jangan lupa juga, secara alamiah, usia kanak-kanak adalah saat untuk bermain. Bermain juga penting untuk melatih fisik, emosi, imajinasi, dan kreativitas anak. Sayang sekali apabila ibu sampai melarang anak bermain semata karena "program anak cerdas dan kreatif".
"Mencetak" anak cerdas dan kreatif juga berarti ibu harus berperan aktif. Memang, anak yang kreatif tidak aakn jadi dengan sendirinya, melainkan harus diarahkan. Namun, di sisi lain, kreativitas -yang mensyaratkan kebebasan- tidak akan berkembang apabila anak tidak diberi kesempatan. Kebebasan tanpa batas dapat berakibat buruk dan justru tidak menunjang kreativitas.
Sebaliknya, disiplin kaku tanpa toleransi berpotensi mematikan kreativitas anak. Oleh karena itu, kebebasan dan disiplin harus dimainkan secara serasi agar anak dapat mengembangkan potensinya secara optimal.
Kreativitas
Imajinasi adalah kata kunci kreativitas. Menurut para ahli, potensi kreativitas itu mulai meningkat pada usia 3 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 4,5 tahun. Kemudian, potensi itu akan segera menurun pada saat masuk sekolah dasar. Oleh karena itu, upaya perangsangan kreativitas pada usia prasekolah menjadi sangat penting.
Ada banyak cara untuk mengembangkan kreativitas anak. Di rumah, ibu dapat melakukannya, misalnya dengan membiarkan anak mengatur kamar tidurnya sendiri. Sedangkan di sekolah, dapat dilakukan dengan mengembangkan cara belajar-mengajar yang mendorong anak untuk aktif. Cara-cara belajar yang mengandalkan metode hafalan atau memaksa anak untuk mengikuti berbagai kursus justru merusak kreativitas dan imajinasi anak.
Anak bermain bagi banyak ibu dianggap sebagai "pemborosan waktu". Dalam pandangan mereka akan lebih baik jika waktu untuk bermain itu dipakai untuk kegiatan belajar yang tidak mengandung unsur permainan. Anggapan ini sangat keliru, karena bermain bagi anak bukanlah sekadar untuk mengisi waktu senggang. Seorang pakar bahkan mengingatkan, jika kebebasan bermain tersebut dihambat, pada masa selanjutnya daya kreatif, daya imajinasi, bahkan kemampuan belajar anak bakal mengalami hambatan yang serius.
Musik, olahraga, dan berbagai kegiatan yang melibatkan gerakan lainnya banyak menentukan perkembangan anak untuk masa depan. Banyak ibu hanya peduli dengan hasil akhir, tanpa tahu bagaimana proses belajar terjadi. Hal itu yang mengakibatkan pengajaran hal yang bersifat kreatif, misalnya musik, sama seperti mengajar ilmu-ilmu lain. Padahal, jika diajarkan dengan benar, dapat meningkatkan daya imajinasi da pemahaman anak.
Enda (35), misalnya, setiap malam berusaha meluangkan waktu untuk memantau pelajaran sekolah anaknya. "Meski capek, saya berusaha tetap memeriksa PR yang diberikan, bahkan mengajari apabila ada hal yang kurang jelas," tutur Enda.
Tak ada yang salah dengan upaya mencetak anak cerdas dan kreatif. Persoalannya, sampai di mana upaya-upaya tersebut bermanfaat bagi anak? Selain itu, persoalan berikutnya, sampai sejauh mana anak dapat mengikuti tanpa merasa terpaksa sehingga akhirnya justru tidak produktif dan menjadi masalah di kemudian hari?
Jangan lupa juga, secara alamiah, usia kanak-kanak adalah saat untuk bermain. Bermain juga penting untuk melatih fisik, emosi, imajinasi, dan kreativitas anak. Sayang sekali apabila ibu sampai melarang anak bermain semata karena "program anak cerdas dan kreatif".
"Mencetak" anak cerdas dan kreatif juga berarti ibu harus berperan aktif. Memang, anak yang kreatif tidak aakn jadi dengan sendirinya, melainkan harus diarahkan. Namun, di sisi lain, kreativitas -yang mensyaratkan kebebasan- tidak akan berkembang apabila anak tidak diberi kesempatan. Kebebasan tanpa batas dapat berakibat buruk dan justru tidak menunjang kreativitas.
Sebaliknya, disiplin kaku tanpa toleransi berpotensi mematikan kreativitas anak. Oleh karena itu, kebebasan dan disiplin harus dimainkan secara serasi agar anak dapat mengembangkan potensinya secara optimal.
Kreativitas
Imajinasi adalah kata kunci kreativitas. Menurut para ahli, potensi kreativitas itu mulai meningkat pada usia 3 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 4,5 tahun. Kemudian, potensi itu akan segera menurun pada saat masuk sekolah dasar. Oleh karena itu, upaya perangsangan kreativitas pada usia prasekolah menjadi sangat penting.
Ada banyak cara untuk mengembangkan kreativitas anak. Di rumah, ibu dapat melakukannya, misalnya dengan membiarkan anak mengatur kamar tidurnya sendiri. Sedangkan di sekolah, dapat dilakukan dengan mengembangkan cara belajar-mengajar yang mendorong anak untuk aktif. Cara-cara belajar yang mengandalkan metode hafalan atau memaksa anak untuk mengikuti berbagai kursus justru merusak kreativitas dan imajinasi anak.
Anak bermain bagi banyak ibu dianggap sebagai "pemborosan waktu". Dalam pandangan mereka akan lebih baik jika waktu untuk bermain itu dipakai untuk kegiatan belajar yang tidak mengandung unsur permainan. Anggapan ini sangat keliru, karena bermain bagi anak bukanlah sekadar untuk mengisi waktu senggang. Seorang pakar bahkan mengingatkan, jika kebebasan bermain tersebut dihambat, pada masa selanjutnya daya kreatif, daya imajinasi, bahkan kemampuan belajar anak bakal mengalami hambatan yang serius.
Musik, olahraga, dan berbagai kegiatan yang melibatkan gerakan lainnya banyak menentukan perkembangan anak untuk masa depan. Banyak ibu hanya peduli dengan hasil akhir, tanpa tahu bagaimana proses belajar terjadi. Hal itu yang mengakibatkan pengajaran hal yang bersifat kreatif, misalnya musik, sama seperti mengajar ilmu-ilmu lain. Padahal, jika diajarkan dengan benar, dapat meningkatkan daya imajinasi da pemahaman anak.
-kompas.com-
Queensland - Studi terbaru para ilmuwan di Australia telah membuktikan bahwa belajar berenang dapat membuat anak menjadi lebih cerdas.
Selain berguna bagi kesehatan, renang juga bermanfaat sebagai pertahanan tubuh saat berada di air.
Sebuah penelitian hasil kerjasama antara Griffith University, Kids Alive Swim Program dan Swim Australia ini menjaring lebih dari 10.000 anak berumur sekitar lima tahunan pada kelas latih renang.
Proyek ini memantau 10.000 siswa di seluruh Australia setiap tahunnya selama empat tahun dan bertujuan untuk menentukan apakah dengan berenang secara teratur mampu menghasilkan masukan terhadap perkembangan fisik, sosial, kognitif dan bahasa pada anak-anak yang belum bersekolah.
Profesor Robyn Jorgensen, dari Griffith Institute for Educational Research, Queensland, mengatakan "Bukti anekdotal menemukan bahwa perenang atau anak yang bisa berenang cenderung lebih percaya diri dengan perkembangan fisik yang lebih besar daripada rekan-rekan seusianya yang tidak bisa berenang."
Menurutnya, data awal dari studi ini cukup positif, mereka mengikuti kelas berenang terlihat lebih unggul secara perkembangan, baik secara fisik, sosial, kognitif dan bahasa.
"Tenggelam adalah penyebab kematian tertinggi di bawah kelompok umur 5 tahun, baik di kolam renang, kamar mandi atau sumber air lainnya. Jadi kami ingin meningkatkan kesadaran tentang pentingnya belajar berenang sejak usia dini," kata Prof Jorgensen.
Hasil studi ini akan mengidentifikasi faktor kunci dalam program-program renang yang meningkatkan perkembangan anak, seperti jumlah pelajaran per minggu, usia anak ketika mulai pelajaran dan akses ke kolam renang rumah.
Penelitian ini merupakan studi detail pertama yang menentukan banyaknya manfaat dari perkembangan yang terjadi pada anak yang sedang belajar berenang.
Selain berguna bagi kesehatan, renang juga bermanfaat sebagai pertahanan tubuh saat berada di air.
Sebuah penelitian hasil kerjasama antara Griffith University, Kids Alive Swim Program dan Swim Australia ini menjaring lebih dari 10.000 anak berumur sekitar lima tahunan pada kelas latih renang.
Proyek ini memantau 10.000 siswa di seluruh Australia setiap tahunnya selama empat tahun dan bertujuan untuk menentukan apakah dengan berenang secara teratur mampu menghasilkan masukan terhadap perkembangan fisik, sosial, kognitif dan bahasa pada anak-anak yang belum bersekolah.
Profesor Robyn Jorgensen, dari Griffith Institute for Educational Research, Queensland, mengatakan "Bukti anekdotal menemukan bahwa perenang atau anak yang bisa berenang cenderung lebih percaya diri dengan perkembangan fisik yang lebih besar daripada rekan-rekan seusianya yang tidak bisa berenang."
Menurutnya, data awal dari studi ini cukup positif, mereka mengikuti kelas berenang terlihat lebih unggul secara perkembangan, baik secara fisik, sosial, kognitif dan bahasa.
"Tenggelam adalah penyebab kematian tertinggi di bawah kelompok umur 5 tahun, baik di kolam renang, kamar mandi atau sumber air lainnya. Jadi kami ingin meningkatkan kesadaran tentang pentingnya belajar berenang sejak usia dini," kata Prof Jorgensen.
Hasil studi ini akan mengidentifikasi faktor kunci dalam program-program renang yang meningkatkan perkembangan anak, seperti jumlah pelajaran per minggu, usia anak ketika mulai pelajaran dan akses ke kolam renang rumah.
Penelitian ini merupakan studi detail pertama yang menentukan banyaknya manfaat dari perkembangan yang terjadi pada anak yang sedang belajar berenang.
-wartanews.com-
MEDAN-Dinas Pendidikan Sumatera Utara (Disdiksu) berupaya meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), mengingat pada tahun 2009 hanya mencapai 28 persen.
"Untuk itulah, tahun ini Disdik Sumut berupaya meningkatkan rintisan kelompok PAUD terutama di desa-desa," ujar Sekretaris Dinas Pendidikan Sumut, Edward Sinaga, Kamis (21/10).
Dijelaskan Edward, PAUD ini menjadi program prioritas yang terus digalakkan Menteri Pendidikan Nasional. Sebab, PAUD merupakan pendidikan investasi Sumber Daya Manusia (SDM) untuk jangka panjang, sehingga dibutuhkan adanya pendidikan sejak usia dini mulai dari 1 hingga 7 tahun.
Pada tahun 2010 ini, Sumut menargetkan APK PAUD harus mencapai 53,50 persen. Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 25,90 persen dibanding APK tahun 2009 yang hanya mencapai 28 persen.
Meskipun APK PAUD di Sumut masih rendah, sebenarnya Edward menyebutkan data APK masih belum akurat. Sebab, masih ada PAUD yang terdapat di gereja dan masjid-masjid yang selama ini belum terdata.
"Saya yakin angka APK PAUD di Sumut tahun 2009 tidak serendah itu. Pastinya, masih banyak PAUD di gereja dan masjid yang belum terdata, untuk itulah nanti kami akan melakukan penataan ulang," terangnya.
Begitupun, tahun 2010 ini Disdik Sumut sudah menganggarkan sebesar Rp 11 miliar untuk membentuk rintisan 250 kelompok PAUD di desa-desa yang ada di Sumut.
"Tahun depan kami targetkan Disdik Sumut akan melakukan pembinaan terhadap 400 kelompok PAUD," katanya.
Rendahnya APK PAUD tahun 2009 ini, dikatakan Edward disebabkan masih banyak masyarakat yang belum menyadari akan pentingnya PAUD, sehingga Dinas Pendidikan Sumut perlu lebih gencar mensosialisasikan PAUD.
Upaya lain yang akan dilakukan dengan meningkatkan koordinasi penyelenggaraan PAUD bersama pihak terkait seperti kelompok gereja dan masjid yang selama ini menyelenggarakan PAUD tetapi tidak terdata.
"Selebihnya, kami akan melakukan pemberdayaan dana bantuan penyelenggaraan makanan untuk siswa-siswa PAUD tersebut," jelas Edward.
Di Medan, APK PAUD hingga saat ini juga masih rendah. Tahun 2010 diperkirakan hanya mencapai 34,6 persen, padahal APK nasional rata-rata sudah mencapai 50,90 persen.
Rendahnya APK PAUD di Medan ini membuat Dinas Pendidikan (Disdik) kota Medan akan terus berupaya untuk menggenjotnya hingga tahun 2015 mendatang.
"Kita berupaya memerhatikan APK PAUD. Tahun ini kita perkirakan mencapai 34,6 persen. Untuk tahun 2015 nanti kita genjot hingga mencapai 40,83 persen," ujar Kadisdik Medan Hasan Basri.
Ketua Dewan Pendidikan Medan, Mutsyuhito Solin menyebutkan PAUD ke depan harus dikelola dengan baik, sebab akan berdampak untuk peningkatan SDM dan berdampak positif terhadap perkembangan usia berikutnya.
"Pengelolaan PAUD ini seharusnya benar-benar menjadi program prioritas bagi Disdiksu dan ke depan diharapkannya tidak lagi sekadar dikelola Pendidikan Luar Sekolah, tetapi seharusnya lembaga-lembaga lain seperti Yayasan Pendidikan lainnya," ungkap Solin.
harian-global.com






