Featured Posts

Paud, Jembatan Keunikan AnakPaud, Jembatan Keunikan Anaktuntutan orang tua yang merasa bangga dan menuntut anak usia dini mahir calistung bukan lagi cara pandang tepat. Selain belum waktunya, juga melanggar hak anak bermain. Efeknya.....

Readmore

kunci penting kembangkan bakat anakKunci Penting Kembangkan Bakat AnakBAKAT dalam diri anak merupakan anugerah sejak lahir yang musti disyukuri. Namun, orangtua tidak boleh hanya berdiam diri. Perlu stimulasi untuk mengasah bakatnya....

Readmore

pengembangan bakat disesuaikan dengan kebutuhan anakPengembangan Bakat Disesuaikan dengan Kebutuhan AnakKUNCI lain yang tak kalah pentingnya dalam pengembangan bakat anak adalah dengan selalu berpijak pada kebutuhan anak....

Readmore

Rss


Siapa sangka gadis lucu yang lahir normal bisa menghebohkan dunia dengan menjadi anak tergemuk di dunia dimana berat badan nya seberat 440 lbs (sekitar 200 kilogram!).

Jessica, demikian nama sang anak, lahir di Indiana, Amerika, 13 tahun yang lalu. Pada usia 5 tahun dirinya sudah mempunyai berat 230 lbs (lebih dari 100 kg) dimana berat ini adalah 5x lipat berat anak normal seusianya..
Pada usia 5 tahun, Jessica tampil di sebuah show talk di Amerika dan mulai saat itu dia menjadi perhatian dunia. Akan tetapi ternyata ini tidak membuat dirinya mengurangi makanan, tetapi malah berat nya bertambah dari hari ke hari.
Pada usia nya yang ketujuh, Jessica menjadi anak yang paling berat di dunia dimana dia mempunyai berat 440 lbs (setara 200 kg). Bayangkan!!! Anak 7 tahun mempunyai berat badan 200kg!
 
Karena kegemukan, Jessica tidak mampu untuk berjalan dengan kaki lagi, dia harus merangkak atau berlutut dan menyeret badan nya untuk bergerak.
Dia harus digandeng atau menggunakan kursi roda dimanapun dia pergi karena dia tidak mampu lagi berjalan karena kegemukan.
Kegemukan Jessica sudah mulai terjadi pada saat dia bayi berumur 1 minggu. Pada waktu itu, dia menangis karena sakit perut, tetapi ibunya mengira dia menangis karena kelaparan dan ibunya memberinya sebotol susu. Setelah diberi susu, bayi tersebut terlihat agak tenang. Dan semanjak itu Jessica selalu minta susu tak henti-hentinya, minta lagi minta lagi.

Pada umur 5 tahun, Jessica setiap hari menghabiskan 15 hamburgers dengan kentang goreng, beberap kilogram coklat, 2 liter coca-cola, cemilan potato chips, dan masih tidak cukup. Bayangkan, jumlah makanan dia dalam 1 hari bisa cukup untuk makan satu anak beberapa bulan!


Ibu nya selalu menyetok makanan di lemari es, sehingga lemari es dan lemari makan mereka selalu penuh. Inilah juga yang menyebabkan Jessica makan tidak berhenti. Kalau tidak dikasih, maka dia akan marah dan memukul. 
 
Ibunya mengklaim kalau dia terus-menerus memberikan makan kepada putrinya karena dia tidak tau bahaya kegemukan. Inilah yang sangat mengherankan, orang kampung saja bisa tau bahaya kegemukan masa ibunya tidak tau. Mungkin saja ibunya sendiri (lihat aja postur ibunya yang tidak jauh beda dengan putrinya) doyan makan, sehingga senang dan menikmati kalau ada yang bisa menemani dan menandingi selera makan nya

Pada umur 7 tahun, Jessica hampir meninggal karena kesulitan bernapas karena kegemukan. Jessica dilarikan ke rumah sakit bagian gawat darurat karena kesulitan bernapas, dan disanalah para dokter mewajibkan dia untuk menjalani lathan dan diet makanan untuk kembali normal.
 
Jessica sedang menjalani latihan untuk menguruskan berat badan nya..
Walaupun telah menjalani perawatan, Jessica mempunyai masalah menahan selera makan nya, dirinya sering menangis dan meraung-raung berjam-jam meminta makanan. Akan tetapi beruntunglah Jessica sudah berhasil menurunkan berat badan nya sebanyak 300 lbs (130kg). Tetapi walaupun berat badannya berkurang, kaki Jessica sudah bengkok karena tidak mampu menopang berat badannya yang ratusan kilo sebelumnya. Jessica harus menjalani operasi untuk memasang penopang dikakinya supanya bisa lurus kembali.


Sekarang Jessica sudah mulai mengurus, lalu bagaimanakah dengan sang ibu? Mudah-mudahan sang ibu juga bisa mengurangi selera makan nya sehingga tidak lagi menjerumuskan anaknya seperti sebelumnya.
 

sumber : kaskus.us




Gemes juga ya kalo liat anak yang gemuk..rasanya kepingin meluk dan mencubitnya.. tapi kalo "kadar" kegemukannya seperti jessica di atas, wah..repot juga ya..
Oleh karena itu, kejadian yang menimpa jessica tersebut hendaknya dapat dijadikan pelajaran bagi orang tua agar lebih memperhatikan kesehatan anaknya, terutama dalam hal makanan.
keinginan anak memang harus dipenuhi selama orang tuanya mampu untuk memenuhi keinginan tersebut. Orang tua mana yang tidak senang jika melihat anaknya merasa senang. Namun orang tua pun sebaiknya juga  dapat mempertimbangkan apakah keinginan anak tersebut baik bagi dirinya atau malah membahayakan..?? berikanlah yang terbaik bagi anak kita.
mudah-mudahan anak kita selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT. Amiin...
[ Read More ]


Selain pengenalan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) tidak diperkenankan untuk diajarkan secara langsung sebagai pembelajaran kepada para anak didik di Taman Kanak-kanak (TK), tidak dibenarkan pula siswa TK dites dan diuji terlebih dulu untuk melanjutkan ke tingkat Sekolah Dasar.

Demikian dikatakan oleh Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Suyanto kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (12/2/2010), terkait adanya pembelajaran calistung di TK dan tes uji anak didik TK sebelum masuk SD, terutama di sekolah-sekolah swasta. Suyanto menegaskan, apapun bentuknya, tes tersebut tidak diperkenankan.

Aturan main untuk persoalan tersebut, kata Suyanto, sudah tertuang dalam Surat Edaran dari Dirjen Dikdasmen Nomor: 1839/C.C2/TU/2009 yang ditujukan kepada para gubernur dan bupati/walikota di seluruh Indoensia. Surat edaran itu menyebutkan, bahwa kriteria calon peserta didik SD/MI berusia sekurang-kurangnya 6 (enam) tahun, pengecualian terhadap usia peserta didik yang kurang dari 6 (enam) tahun dilakukan atas dasar rekomendasi tertulis dari pihak yang berkompeten, seperti konselor sekolah/madrasah maupun psikolog.
Oleh karena itu, lanjut dia, setiap SD wajib menerima peserta didik tanpa melalui tes masuk dan tetap memprioritaskan pada anak-anak yang berusia 7 sampai 12 tahun dari lingkungan sekitarnya tanpa diskriminasi sesuai daya tampung satuan pendidikan yang bersangkutan.

"Jadi, tidak ada itu tes-tes masuk. Di situ kan sudah dijelaskan, bahwa masuk SD itu ukurannya hanya usia, bukan kemampuan akademik melalui sebuah tes," tegasnya.

Hanya, lanjut Suyanto, Kementrian Pendidikan Nasional (pemerintah) tidak bisa mengambil tindakan atau sanksi apapun karena sekolah memiliki otonomi. Pun, wacana mengenai himbauan ini sendiri sudah berulang kali dilakukan oleh pemerintah, sementara kenyataannya tetap banyak sekolah yang melakukan.

"Biasanya kalau di SD favorit hal itu dilakukan untuk penyaringan kualitas calon-calon anak didiknya. Tetapi terlepas dari itu, intinya kami (pemerintah) sudah menegaskan tidak diperbolehkan ada tes. Alasan penyaringan kualitas itu masuk akal, tapi tidak benar," tegas Suyanto.

"Sayangnya kami tidak bisa menindak, seharusnya yang menindak itu pemerintah daerah melalui dinas pendidikannya," tambah Suyanto.

Jangan Panik dengan Tes Masuk SD

Dulu, masuk ke Sekolah Dasar (SD) tidak perlu pakai tes. Asalkan cukup umur, 6-7 tahun, anak bisa masuk SD, baik di sekolah negeri atau swasta. Sekarang, umur saja tidak cukup. Mau masuk SD, anak harus dites dulu. Sudah bisa baca belum? Kenal huruf enggak? Sudah pandai menghitung sampai berapa?

Maria, seorang guru TK internasional dengan pengalaman mengajar 10 tahun, memahami betul dilema adanya tes masuk SD ini. "Intinya, semua anak berhak mendapat pendidikan. Kalau pun anak itu kurang pintar, apa malah dia tak boleh sekolah?" tuturnya pada Kompas.com, Jumat (12/2/2010).

Ia mengatakan, sebenarnya lain sekolah bisa lain kebijakan. Tetapi kebanyakan sekolah berstandar internasional atau nasional plus kini sudah memberlakukan tes baca-tulis-hitung (calistung) pada anak-anak sebelum dibukanya penerimaan murid. Memang, lanjut dia, ada sekolah yang sekedar ingin tahu kemampuan anak. Pun, karena kapasitas kelasnya besar, anak kemungkinan besar diterima, kecuali ada keterbelakangan mental maka itu lain soal lagi.

"Yang penting orang tua jangan negative thinking saja," pesan Maria, agar orang tua tidak menjadi terlalu cemas anaknya ketinggalan.

Toh, kata dia, makin banyak murid pendapatan sekolah juga semakin lancar. Namun dia juga mengakui, ada sekolah yang lebih ketat penerimaannya, entah karena keterbatasan kapasitas atau alasan lainnya. Namun, karena orang tua panik dan mengira anaknya harus sudah bisa calistung maka, pihak guru pun panik.

"Kita juga sebagai guru ikut tertekan. Kalau anaknya belum bisa kita yang dipersalahkan, dan si anak juga jadi stres karena merasa tak bisa," keluh Maria.

Etis, seorang supervisor sekolah TK dan SD di kawasan Kelapa Gading, menyatakan bahwa di sekolahnya memang untuk masuk SD ada tes baca tulis. "Tapi sifatnya lebih untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan si anak, dan bagaimana membantu mengatasi kelemahan yang ada," ujarnya.
"Ya, orang tua juga dijelaskan tentang ini," jawabnya tentang orang tua juga diberi penjelasan yang cukup agar tidak panik.

Roslina Verauli, psikolog anak, mengenai tes masuk SD ini ikut memberikan tanggapannya. Roslina mengaku suka dengan adanya ujian. Hanya, kata dia, yang diujikan semestinya bukanlah materi akademis atau calistung, melainkan tes kemampuan dan konsep dasar.

"Ada kekeliruan, orang merasa anak harus bisa calistung untuk masuk SD," tambahnya.

Untuk itu, Roslina menyarankan agar ada persamaan persepsi dulu di masyarakat, baik antara pihak sekolah, pengajar, dan orang tua agar tidak terjadi kekhawatiran yang ujung-ujungnya menekan si anak.

-kompas.com-


[ Read More ]


Pengenalan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) tidak diperkenankan untuk diajarkan secara langsung sebagai pembelajaran kepada para anak didik di taman kanak-kanak.

Calistung harus dalam kerangka pengembangan seluruh aspek tumbuh kembang anak, dilakukan sambil bermain, dan disesuaikan dengan tugas perkembangan anak. Selain itu, juga tidak dibenarkan siswa TK dites dan diuji terlebih dulu untuk melanjutkan ke tingkat sekolah dasar.

Demikian ditegaskan Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Suyanto kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (12/2/2010), terkait adanya pembelajaran calistung di TK dan tes uji anak didik TK sebelum masuk SD, terutama di sekolah-sekolah swasta.

"Tidak boleh ada calistung di TK kecuali diajarkan hanya pada tataran pedagogis saja, dan tidak benar kalau ada sekolah yang memberikan tes. Itu bukan praktik yang baik," ujar Suyanto.

Suyanto menuturkan, seperti tertuang dalam Surat Edaran dari Dirjen Dikdasmen Nomor: 1839/C.C2/TU/2009 yang ditujukan kepada para gubernur dan bupati/wali kota di seluruh Indonesia, TK seharusnya hanya menciptakan lingkungan yang kaya dengan beragam bentuk keaksaraan yang akan lebih memacu kesiapan anak didiknya untuk memulai kegiatan calistung di tingkat lanjutan, yaitu sekolah dasar.

Dia menambahkan, pendekatan bermain sebagai metode pembelajaran di TK hendaknya disesuaikan dengan perkembangan usia dan kemampuan anak didik, yaitu secara berangsur-angsur dikembangkan dari bermain sambil belajar (unsur bermain lebih dominan) menjadi belajar seraya bermain (unsur belajar mulai dominan).

"Jadi, semacam tingkat persiapan sehingga anak didik tidak merasa canggung untuk menghadapi pendekatan pembelajaran pada jenjang pendidikan selanjutnya di SD," ujarnya.

Usia TK Itu Usia Bermain Lho, Bukan Calistung....

Belum sepantasnya guru TK menekankan kemampuan baca, tulis, dan berhitung atau calistung kepada anak-anak didiknya. Memang, hal itu akan meringankan kerja guru SD. Namun, yang seharusnya dicamkan oleh semua pihak adalah usia TK itu merupakan usia anak untuk bermain.

"Yang perlu diajarkan kepada anak-anak itu hanya motorik kasar, seperti keseimbangan sebagai bekal untuk konsentrasi atau melompat dan lain-lain sejenisnya, sedangkan untuk motorik halus perlu diberikan agar nantinya di SD mereka terbiasa memegang pensil, belajar menggaris atau menggunting," ujar Irma Juliasmi Nasution, guru SD Islam Dian Didaktika, kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (10/3/2010).

Di TK, guru kelas I SD ini mengatakan bahwa siswa seharusnya baru diberi pengenalan huruf dan tidak lebih. Kalaupun ada, maka hal itu bukan menjadi target utama pembelajaran.

"Sebetulnya, kenapa anak-anak TK itu diajarkan calistung juga karena tuntutan para orangtuanya sendiri. Mereka banyak yang protes, kenapa anak mereka kok diajarinya cuma menggambar, mewarnai, menggunting, tidak diajarkan membaca," ujar Juli, sapaan akrabnya.

"Mereka tidak tahu, belajar motorik halus dan kasar untuk anak usia TK jauh lebih penting dan dibutuhkan ketimbang belajar membaca," tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya di harian Kompas, sejumlah guru TK kini "terpaksa" menekankan kemampuan calistung kepada siswanya. Ini disebabkan adanya seleksi dan persyaratan bahwa siswa harus bisa membaca dan menulis saat masuk SD. Akibat kebijakan itu, guru TK kurang optimal memprioritaskan upaya merangsang dan mengembangkan potensi anak secara holistik.

Opih R Zainal, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Persatuan Guru Republik Indonesia, Selasa (9/3/2010) di Jakarta, mengatakan bahwa mengajarkan calistung sebenarnya tidak dilarang di jenjang pendidikan TK.

"Asal pengenalan calistung itu dilakukan bukan dengan cara memaksa dan drilling. Banyak cara, misalnya lewat lagu dan permainan, kemampuan baca, tulis, dan berhitung anak bisa berkembang dengan baik dan tidak membuat anak stres. Tetapi tetap saja, ada TK yang memfokuskan ke calistung dengan alasan lebih diminati dan memang diminta orangtua," ujar Opih.

-kompas.com-


[ Read More ]


Bermain itu adalah hak anak. Sayang tingkat bermain anak di Indonesia sangat rendah. Padahal bermain memberi manfaat bagi anak.

Menurut psikolog anak Ratih Andjayani Ibrahim, ada 3 alasan kenapa anak mesti punya kesempatan untuk bermain yang menyenangkan.

Pertama, dengan bermain anak akan tumbuh menjadi manusia dewasa yang utuh, sehat jiwa dan bahagia. Kedua, tanpa unsur bermain yang menyenangkan dan bergerak, anak akan tumbuh menjadi dewasa yang kurang tegas, stres, dan neurotik. Dan yang ketiga, pada level ekstrim, ketegangan dan stres bisa memicu gangguan-gangguan, termasuk gangguan jiwa.

Kebutuhan anak-anak usia 2 - 13 tahun adalah bermain. "Maka biarlah mereka bermain, jangan dipaksa belajar atau les ini dan les itu. Kalau mau mengajari (pelajaran) kan bisa dengan bermain," kata Ratih.

Bermain, Itu Memang Kerjaan Anak!


Wartawan itu kerjanya menulis. Kalau dosen mengajar dan mendidik. Nah, kalau anak-anak ya bermain. Karena itu memang dunianya.  Hal tersebut dikatakan dengan tegas oleh Sosiolog Imam Prasodjo dalam diskusi Pentingnya Bermain bagi Anak yang di Jakarta, Kamis (2/4).  "Anak itu ya bermain. Tapi pertanyaannya, bagaimana bermain yang produktif itu?" kata Imam. 

Menurut Imam, bermain yang produktif itu mesti mengajari anak tiga hal, yaitu :


Pertama, dengan bermain anak belajar peduli pada diri sendiri. Misalnya bermain make up atau berdandan. Ini bisa mengajari anak merawat dan menghargai dirinya sendiri, kata Imam. 

Kedua, bermain bisa membuat anak peduli pada orang lain dengan lintas budaya, jarak dan waktu. Salah satu contoh kegagalan masa anak-anak adalah fenomena perusakan warisan budaya berupa bangunan sejarah. Ini karena pada masa anak kurang diajarkan untuk menghargai orang lain, kata dosen tetap FISIP UI ini. 

Ketiga, dengan bermain anak akan peduli pada lingkungan. Taman bermain seharusnya menjadi wahana untuk mengurangi perilaku buruk, seperti bullying dan vandalisme. Misalnya, pada saat kelulusan anak-anak cenderung corat-coret, tidak hanya baju seragam yang dicoret tapi juga dinding, sesal Imam yang juga ketua Yayasan Nurani Dunia.  



-kompas.com-



[ Read More ]


Buah hati Anda senang menonton Televisi? Bayi yang baru berusia beberapa bulan pun setelah matanya bisa melihat dengan jelas senang melihat televisi. Apalagi bagi bayi diatas satu tahun. Buat anak, teve seolah menjadi jendela untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Dengan sinar yang berwarna-warni dan gambar-gambar yang bermacam-macam.

Namun sebagai orang tua kita patut waspada, karena ternyata televisi menyimpan beragam masalah buat anak. Salah satunya adalah ancaman kerusakan pada mata. Sekarang jumlah pemakai kacamata anak-anak relatif meningkat.

Sinar biru (blue light) inilah yang dituding sebagai penyebab utama kerusakan pada mata anak. Sinar biru adalah sinar dengan panjang gelombang 400-500 nano meter pada spektrum sinar yang masih dapat diterima oleh mata. Secara alamiah, sinar biru dipancarkan oleh matahari. Namun kemajuan teknologi seperti televisi, komputer serta lampu neon juga punya andil terhadap kian menyebarnya blue light di tengah masyarakat.

Kenapa bayi dan anak rentan? Karena masih tahap perkembangan, tingkat kejernihan mata anak lebih besar dibanding orang dewasa. Akibatnya lebih besar pula sinar biru ditangkap retina mata anak. Pada jangka pendek, sinar biru yang mengalami oksidasi itu bisa mengganggu kerja retina.

Untuk menjauhkan anak dari televisi tentu tidak mudah dilakukan, apalagi melarang untuk tidak bermain games. 

Bagaimana cara mengatasinya ? 

Pertama, orang tua jangan bosan mengingatkan anak untuk tidak menonton televisi terlalu dekat atau terlalu lama. Kedua, anak sebaiknya banyak mengkonsumsi makanan dengan kandungan zat lutein. Yaitu nutrisi senyawa karotenoid yang banyak ditemukan pada sayuran berwarna kuning jingga (wortel), sayuran berwarna hijau (brokoli), dan buah berwarna merah dan kuning jingga (tomat, arbei, semangka dan mangga), serta ASI.

Kecukupan lutein pada makanan membantu menjamin perkembangan mata yang sehat pada bayi dan anak. Kadar lutein yang paling tinggi terdapat pada ASI. Semakin lama bayi mendapat ASI, akan semakin terjamin kesehatan dan perkembangan matanya.


-duniabalita.com-


[ Read More ]